Hai, kamu! Iya kamu, aku 10 tahun yang lalu!


Nggak perlu khawatir dengan dunia. Nggak perlu takut dengan masa depan. Kamu akan melewatinya dengan sangat, sangat baik. Aku bangga kok dengan kamu. Yah, ada sedikit kecewa. Sedikiiit sekali. Tapi melihat kamu akan menjadi lebih dewasa pemikirannya beberapa tahun kemudian, terlebih melihat kamu menjadikan segalanya pelajaran. Aku bangga banget sama kamu!

Meskipun kamu masih sok jagoan, masih sok pintar, sok gaul, dan lain sebagainya yang menyebalkan banget, tapi aku tau itu hanya prosesmu untuk mencari jati dirimu yang sebenarnya. Iya kan? Kamu berproses untuk mencari "aku ini sebenernya siapa sih?" atau "aku ini sebenernya pengennya gimana sih?". Kamu memang sok jagoan, tapi kamu baper kalo nggak punya teman. Mihihihi (sampe sekarang itu mah!). Kamu masih insecure dengan fisik kamu, kamu masih pengen kelihatan "bandel" supaya lebih keren. Iya, nggak papa. Aku tetep bangga kok. Aku tau, itu bagian dari prosesmu menjadi lebih dewasa.

Nggak usah khawatir jika seisi dunia membencimu. Perlahan mereka akan mencintaimu kalo kamu sudah mulai lembut dan memahami mereka. Nggak papa jika kamu masih memusuhi banyak orang. Suatu saat kamu pasti nggak nyangka bahwa musuhmu pun bisa jadi temanmu. Bahkan, kata maaf yang saat ini bikin kamu alergi dan jadi kalimat terakhir di hidupmu, akan dengan gampangnya kamu ucapkan bertahun-tahun kemudian. Pun, kamu nggak perlu khawatir kehilangan teman-teman yang kamu sayang. Nggak perlu marah dengan sahabatmu yang sudah berubah meninggalkanmu. Kelak dia akan kembali lagi, biarpun tak seerat dulu, tapi kamu akan memahami bahwa itu sudah lebih dari cukup. Kelak kamu juga akan punya teman-teman baru yang tulus sayang sama kamu. Teman-teman lamamu juga akan selalu di sana, menjadi memori hangat yang akan kamu kenang bertahun-tahun kemudian.

Jangan sedih saat percintaanmu ditentang orangtua. Jangan sedih saat keluarga melarangmu pacaran dengannya. Mereka sangat sayang sama kamu, walaupun aku tau dia juga tulus mencintaimu. Menangislah saat perpisahan itu kelak akan terjadi. Suatu saat, kamu akan memahami bahwa itu bagian dari pendewasaanmu. Jangan sedih karena cinta pertamamu tak juga kunjung kembali sama kamu. Suatu saat, kamu akan menyadari bahwa cinta dan realita rupanya tetap bisa bersatu dalam logika. Kamu akan memahami bahwa cinta hanya dimiliki oleh Sang Pembolak-balik Hati. Dan yakin deh, nantinya kamu akan bertemu seseorang yang nggak hanya tulus mencintaimu, tapi juga mencintai keluargamu, bahkan mencintai segala tingkah burukmu!

Jangan patah semangat saat kamu menjadi yang paling bodoh di sekolah. Kamu tau bahwa itu konsekuensi dari segala akibat "sok bandel"mu itu kan? Suatu hari, biarpun terkadang menyesali hasilnya, tapi kamu akan menapakinya dengan ikhlas. Juga akan memperbaiki segalanya di tahun-tahun berikutnya. Kesuksesan akan mengikuti segala usaha yang pastinya akan kamu lakukan kelak! Puas-puasin deh bandelmu hari ini. Besok-besok nggak lagi kok! Juga nggak perlu khawatir kalo kamu dibilang nggak punya masa depan. Nggak usah khawatir kalo kamu ditolak di universitas yang kamu (sangat-sangat) pengen. Menangislah sekencang-kencangnya. Semua akan baik-baik saja. Bahkan akan lebih baik, lebih dari yang kamu bayangkan.

Nggak perlu cengeng dengan dunia ini. Nggak perlu khawatir sama peer-peer yang belum selesai.
Nggak perlu sedih karena harus backstreet dengan orangtua.
Nggak perlu marah karena cinta pertamamu mencintai orang lain.
Nggak perlu marah karena sahabatmu lebih duluan berhijrah.
Walaupun aku tau, kamu pasti menangis. Kamu pasti khawatir, sedih, dan marah. 

Tapi kelak kamu akan merindukan masa-masa itu. Bahkan sampai menangis pun, kamu hanya bisa merindukannya tanpa bisa kembali lagi.

Tanpa bisa terulang lagi.

And whatever you were, I am so proud of you! You made me now!

Terima kasih atas apapun yang kamu lakukan. Aku banyak belajar dari kamu. Dan aku masih akan terus belajar lagi supaya kelak "aku 10 tahun kemudian" akan bangga denganku saat ini.

Cheers!

Karena bingung mau nulis apa dengan tema Alergi, plus udah 3x bolos setoran karena sibuk banget sebulan terakhir. Akhirnya saya nulis apa adanya aja ya, yang paling nyerempet tema. Daripada kena kick hihihi.
 

Saya adalah satu dari sekian juta orang yang mengidap asma. Sebagaimana diketahui bahwa asma adalah penyakit yang disebabkan oleh alergi. Macam-macam penyebab alerginya, bisa jadi karena debu, udara dingin, bahkan karena menghirup bulu kucing pun bisa memicu kambuhnya asma. Kebanyakan reaksi alergi yang muncul sih gatal-gatal dan bentol ya, tapi di saya juga bisa memicu asma jika saya terkena debu atau udara dingin. Malah, kalo di saya, pas kebetulan lagi batuk pilek pun bisa kumat juga asmanya. Huft. Dan, kalo sudah kumat, masya Allah, rasanya nggak karuan. Rasanya kayak kufur nikmat selama ini dikasih oksigen cuma-cuma tapi nggak pernah bersyukur. Udah lah susah nafasnya, masih ditambah bengek di dada yang sakit banget tiap nyoba narik nafas. Menyiksa deh pokoknya.

Tapi, Alhamdulillah banget, udah satu-dua tahun terakhir ini saya jarang banget kambuh asmanya. Memang, segala macam alergi itu harus dihindari untuk meminimalisir sesuatu yang lebih parah ya guys! Misalnya, saya nggak pernah lagi bersih-bersih rumah tanpa masker (even though cuma nyapu atau ngelap-lapin meja). Bahkan ganti sprei aja saya pake masker! Plus selalu sedia minyak kayu putih dan selimut/jaket parasut tebal di sekitar. Kalo cuaca udah mulai dingin, ya udah langsung aja pake jaket dan kaos kaki. Nah, susahnya nih kalo lagi mau bobo sama suami karena suami orangnya sumukan banget sedangkan saya alergi dingin. Masalah utama adalah AC karena saya nggak bisa di bawah suhu 26°C sedangkan suami kalo nggak di bawah 26°C bakal kepanasan. Hihihihi. Akhirnya, sering-seringnya suami lepas baju kalo lagi bobo, daripada saya yang kumat bengeknya. Huft, terkesan nggak adil memang, tapi namanya alergi kan emang harus dihindari yekan? Alhamdulillah suami saya sangat-sangat pengertian jadi hal itu nggak dijadikan masalah.

Kalo udah terlanjur kena alergi gimana? Ya udah, langsung aja saya pake obat hirup/semprot yang memang udah tersedia. Tapi itu hanya pilihan terakhir kalo udah bener-bener kambuh ya. Biasanya saya masih mencoba untuk pake minyak kayu putih dulu untuk meringankan gejala, pokoknya obat semprot mah terakhir aja deh. Walaupun aman (satuannya masih di mikrogram which is 1/1000gram, jauh lebih aman dari obat tablet) tapi tetep aja rasanya kurang sreg. Biasanya kalo masih berasa-rasa 'Wah bau-baunya bakal bengek nih.' Udah deh saya langsung pake minyak kayu putih. Tapi kalo udah telat, biasanya mau nggak mau tetep pake obat semprot karena emang beneran nyiksa banget ya guys.

Nah, belakangan semenjak isu covid19 mulai naik, saya termasuk pihak yang parno banget karena covid19 adalah penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Boro-boro covid, kena flu biasa aja saya bisa kumat asmanya! That's why I am too paranoid to face that shit. Takut banget cuy! Katanya malah asma adalah salah satu penyakit penyerta yang memperparah covid. Ughh.. makin parno lah saya. Efek dari keparnoan itu adalah jadi manusia anti sosial yang menghindari segala macam bentuk perkumpulan kalo nggak kepaksa2 amat. Ngantor juga pilih-pilih waktu pas kantornya lagi sepi (karena biarpun WFH, tetep aja ada beberapa orang yang lalu lalang di kantor). Ngerinya adalah, kok bisa alergi yang disebabkan hal sepele bisa memperparah penyakit yang belum ada obatnya? Plus bisa menyebabkan kematian. Nggak usah deh covid, asma biasa tanpa embel-embel aja bisa menyebabkan kematian kalo udah parah. Apalagi ketambahan covid! Betapa pentingnya oksigen dalam hidup ini rupanya hiks.

So far masih aman-aman aja. Asal alergi nggak datang, maka asma pun nggak akan menyerang. Dari saya pun tetep jaga badan supaya nggak gampang sakit, karena efek dari alergi debu aja udah mulai bikin flu. Olahraga teteeep yah, minimal 15 menit sehari. Plus makan yang bergizi dan minum vitamin supaya nutrisinya terpenuhi dan selalu sehat. Masker nggak lupa dipake dan selalu bersih-bersih diri sehabis keluar rumah. Sebisa mungkin pokoknya menghindari aneka macam faktor yang bisa mengarah ke covid, termasuk menghindari alergi.

Stay safe!




Sepuluh tahun lalu saya pernah merasakan hal ini. Rasa ini. Dan goncangan ini.


Sakitnya masih terasa. Bahwa hal ini tentu aja nggak bisa kita perbaiki lagi. Menangis pun tak akan membuat hal itu terulang lagi. Rasa yang masih mengiris hati, lebih sakit karena hati sudah tak lagi terbiasa menghadapi rasa ini. Sudah asing rasanya biar pun bekasnya masih ada.

Ketika rasa ini terulang lagi, saya (mungkin) telah menjelma menjadi seseorang yang berbeda dibanding saya sepuluh tahun yang lalu. Saya tak lagi mencaci keadaan. Tak lagi menyalahkan siapa-siapa. Saya tau, semua ini sudah diatur oleh Maha Pencipta. Bahwa jalannya kami harus begini. Mulutku tak lagi mengeluarkan kalimat-kalimat pendobrak benci. Hanya aja, biarpun berusaha, rasanya keikhlasan masih susah untuk dicapai. Yah.. terserah Sang Maha Membolak-balikkan Hati saja. Yang penting saya tetap berusaha move on. Berusaha melihat hal lain yang bisa membuat saya lebih positif.

Saya nggak tau apa yang direncanakan setelah ini. Jelas sekali ini membuyarkan rencana hidup saya ke depan. Biar pun begitu, saya akan coba selalu ikhlas. I'm trying to look for another way. Because I got to.


Bahwa apa yang kita inginkan belum tentu sejalan dengan takdir kita. Apa sih yang bisa kita lakukan selain ikhtiar? Apa sih kekuatan kita dibanding Sang Pemilik Bumi dan Langit? Bahkan sebutir debu pun masih terlalu besar untuk menggambarkan daya kita dalam mengubah takdir.



Now it's just too late and we can't go back - Simple Plan.






Suatu waktu, di kala segala sesuatu sudah tak mungkin lagi bisa bersatu.

Aku dan kamu, duduk di satu ruang dan waktu yang sama. Memandang secangkir kopi yang tak habis biarpun pagi sudah berubah menjadi senja. Menikmati segala rasa yang terjadi di antara sempitnya hari. Juga bertanya dalam hati, kapan saat ini akan terulang lagi.

Aku masih memandang kamu, yang sebentar lagi akan beranjak. Biarpun aku tau kamu juga enggan, tapi aku tak memiliki niat untuk menahan langkahmu. Sepertinya kamu juga tak ingin aku menghalangi, pun aku juga tau hatimu masih ingin di sini. Tapi kita berdua sama-sama tau, sepanjang apapun waktu kita saat ini, selama apapun rasa ini kita tahan di sini, tak akan mengubah keadaan yang ada setelahnya.

Akhirnya kamu pergi. Dan, tinggal aku di sini yang bernostalgi dalam kenangan bersamamu. Memandang punggungmu yang bahkan pergi tanpa melambai padaku lagi. Menengok kebersamaan kita yang sudah menguap tanpa tau ke mana arahnya. Hatiku tiba-tiba terasa sesak karena tau bahwa ini adalah akhirnya. Setelahnya, entah kapan aku bisa melihat matamu yang bersinar ke arahku lagi.

Aku masih merasakan tangan kita yang terpatri. Aku masih merasakan hati kita masih menyatu. Aku masih merasakan matamu yang memandang aku dengan penuh arti. Seketika aku menyadari bahwa rasamu tak akan pernah berubah, begitu juga dengan aku yang akan selalu menyimpan rasa ini untukmu. Mengendapkan segala kenangan yang pernah terjadi ke dalam sudut hati. Melawan segala kenyataan yang berusaha memisahkan kita. Dan kita tak pernah keluar sebagai juaranya.

Ternyata hatiku sakit merasakan sisa perpisahan yang ku alami sendirian. Kamu sudah duluan pergi. Mungkin kamu juga membawa sisa sakit hati bersamamu, tapi aku tak pernah tau bagian itu. Aku juga tak pernah mengerti kenapa hal ini akhirnya terjadi. Yang ku tau hanyalah kamu tak akan kembali, biarpun aku menangis, kamu tak akan pernah membalikkan langkahmu lagi. Biarpun mungkin kamu menyimpan air mata di balik langkahmu, tapi itu juga tak akan pernah memutarkan waktu supaya kita bisa tetap bersatu.

Aku berjanji untuk ingat hari ini. Mengingat sebuah hari yang menjungkirbalikkan hati. Mengingat sebuah hari yang melekat pada satu rasa dalam hati. Mengingatkan kembali bahwa ternyata, saling cinta bukan berarti harus bersama. Aku janji tak akan lupa, tapi aku janji akan terus melangkah supaya kenangan ini tak sia-sia. Akan ku buktikan bahwa aku juga bisa bahagia, walau di awali dengan hati terpaksa.

Bila nanti esok hari ku temukan dirimu bahagia
Ijinkan aku titipkan kisah cinta kita selamanya ~ Kerispatih





Hello! Selamat Hari Raya Idul Adha untuk yang merayakan. Semoga selalu dilimpahkan rezeki yang cukup untuk diri sendiri, keluarga, dan juga untuk berbagi dengan sekitar. Mumpung lagi lebaran haji gini, puas-puasin dulu ya makan daging, sebelum kolesterol pada naik dan mulai diet lagi deh hihihi.



Seperti Idul Fitri beberapa bulan yang lalu, Idul Adha kali ini juga terasa beda karena pandemi. Saya dan keluarga, masih sholat Ied di rumah seperti saat Idul Fitri, karena takut sama virus Covid19. Vido juga nggak pulang, rencananya sih mau pulang selama seminggu di bulan Agustus nanti, jadinya cuti diirit-irit. Mama masih jadi panitia kurban, motong-motongin daging yang akan ditimbang dan dibagi-bagikan, biarpun kali ini nggak banyak panitia yang berkontribusi. Plus wajib pake masker dan social distancing saat lagi potong-potong dagingnya. Suasana sekitar juga nggak terlalu banyak bedanya. Tetangga sekitar masih rame ngobrol sana sini. Mereka udah menyambut new normal dengan segitu gampangnya (nggak seperti saya yang masih jantungan lihat orang-orang nggak pake masker). Para panitia muda sibuk bagi-bagiin daging dari rumah ke rumah.

Yang terasa beda, tentu aja momen haji kali ini. Saya ikut ngerasa sedih karena, walaupun haji nggak jadi "ditiadakan", tapi tetep aja banyak sekali umat Islam yang terpaksa diundur ibadah hajinya. Dampaknya tentu terasa banget di segala lapisan, terutama para penjual oleh-oleh haji yang katanya jadi sepi pengunjung, biro perjalanan (untuk yang haji plus) juga ikutan sepi, belum lagi BPIH (Badan Penyelenggara Ibadah Haji) yang tentu aja nggak ada yang daftar untuk bimbingan pre-haji. Saya baru menyadari betapa besar kerugian yang dialami banyak lapisan usaha ketika satu hal ini ditiadakan. Banyak sekali dapur orang yang bergantung dari penyelenggaraan haji. Masya Allah.. 

Dan ini semua nggak lepas dari takdir Allah ya. Tentu aja Allah udah mengatur semua ini sedemikian rupa, bisa jadi untuk detox bumi (yang polusi manusianya luar biasa parah) juga bisa jadi untuk peringatan kita semua. Bahwa apa yang udah kita rencanakan, apa yang kita cita-citakan, sesempurna apapun usaha dan persiapannya, jika Allah belum berkehendak maka nggak akan pernah terjadi. Juga sebagai pengingat kita sebagai makhluk Allah harus tetep taat dan nggak sombong. Pandemi yang cuma virus seupil, tapi nyatanya bisa membunuh ratusan ribu orang di dunia. Kita cuma makhluk kecil dibandingkan alam semesta dan isinya. Di pandemi ini, Alhamdulillah hikmahnya banyak. Jadi bisa banyak-banyak mengucap istighfar dan bersyukur. Bisa dapet kesempatan untuk introspeksi diri dan berusaha jadi manusia yang lebih baik lagi, baik di hadapan Allah maupun manusia-manusia lainnya.



Well, selamat menikmati long weekend bersama orang-orang terdekat! Tetep terus berdoa semoga pandemi ini cepet berlalu supaya semuanya bisa beraktivitas normal seperti biasa. Supaya rejeki yang tadinya sempat mampet karena pandemi bisa lancar lagi. Supaya semua orang bisa menyambung tali silaturahmi secara langsung lagi. Dan, supaya Bumi lebih sehat lagi tanpa ada virus apapun itu.

Happy Idul Adha, everyone!

Hello again!
Udah 6 bulan lebih lamanya saya bebas dari kontrol dokter untuk promil. Saat itu juga udah mutusin buat nggak kontrol-kontrol lagi. Kenapa sih kok tiba-tiba on fire lagi pengen kontrol?

Iya sis, karena lagi corona gini kan suami jadi jarang pulang. Pengennya sih pas suami pulang tuh udah 'siap' bener-bener nggak ada halangan rintangan sama sekali untuk punya anak (kecuali tentunya seizin Allah..). Sebulan (atau dua bulan) terakhir ini saya dan suami rutin konsumsi vitamin E yang katanya kaya anti oksidan. Trus saya masih terus konsumsi asam folat dan tambah lagi vitamin anti oksidan lainnya (sekalian buat ngelembabin kulit wakakaka). Berharapnya sih sistem reproduksi kami berdua lebih subur dan siap buat bebikin keturunan.

Kemaren pas staycation, mulai mikir lagi. Kalo jarang-jarang ketemu gini, berarti chance punya anaknya juga makin kecil yak?

Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk mulai lagi kontrol ke dokter. Selain memastikan bahwa semuanya masih normal, juga untuk ngepasin supaya suami pulangnya di masa subur.
Dari hasil kontrol terakhir (sekitar November 2019), semuanya dalam kondisi baik, kecuali sel telur saya yang ukurannya masih di bawah standar. Tapi kata dokternya masih aman, karena hormon progesteronnya masih tinggi dan sel telurnya bisa matang. Dokter juga nyaranin untuk kontrol lagi di masa subur untuk cek sel telur supaya bisa sinkronisasi waktu antara pas bikin dengan kematangan sel telurnya.

Hyuk lah.

Saya SMS adminnya di tanggal 8 Juli 2020 untuk daftar di tanggal 13 Juli 2020 yang mana adalah hari pertama masa subur saya berdasarkan aplikasi kalender di hp. Seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya, admin (yang sepertinya menghitung berdasarkan siklus wanita normal yaitu 28hari) menjadwalkan saya untuk kontrol maksimal di tanggal 11 Juli 2020. Well, males berdebat, padahal siklus saya reratanya lebih panjang (bisa sekitar 30harian). Setelah rada ngeyel tapi takut malah nggak dikasih antrian, akhirnya saya iyakan.



Hari Sabtu, 11 Juli 2020.
Setelah diberitahu jadwal prakteknya yang hari itu hanya dari jam 16.00-18.00, saya pun sampai di praktek dr. Enny sekitar pukul 17.30. Males antrinya, jadi mending dateng telat sekalian. TERNYATA, dr. Enny baru nyampe barengan ama saya! Ugh! Ya udah deh, emang udah takdirnya ngantri kali ya. Selama masa covid, sebagaimana di tempat lain juga begitu, di praktek dokter Enny juga diwajibkan cuci tangan pake sabun sebelum masuk ke klinik. Setelah cuci tangan, saya datang ke meja administrasi untuk ditensi dan ditimbang, juga sekalian ditanyakan HPHTnya. Setelah nunggu sekitar 1,5-2 jam, akhirnya saya pun dipanggil masuk ke ruangan dokter. FYI, selama covid pandemic, sepertinya dokter Enny hanya menerima maksimal 10 pasien.

Saat saya masuk ke ruangan, saya disuruh memakai face shield yang disediakan di situ. Meja dokternya juga dikasih tirai plastik, juga jarak kursinya dijauhkan. Tapi tenang aja, dokternya pake mikrofon jadi nggak perlu khawatir nggak kedengeran beliau lagi ngomong apaan gitu ya. Saya pun dipersilakan duduk di kursi pasien. Dokternya mulai baca-baca lagi arsip saya sambil memastikan tes apa aja yang udah dilakukan sebelumnya. Setelah itu, saya dipersilakan untuk (sorry) lepas celana dan tidur di kasur periksa. Dokternya pun masih buka-buka arsip sambil baca-baca dan dua menit kemudian baru deh beliau duduk dan memulai USG Trans-V. Seperti yang udah saya jelaskan sebelumnya, USG Trans-V adalah USG dengan cara memasukkan alatnya ke dalam vagina. Rada nyeri dikit waktu dimasukkin, tapi setelah itu ya biasa aja. Saat di USG, keliatan bahwa sel telur saya sudah mulai matang. Biarpun gitu, tetep aja (seperti kontrol pertama dulu) sel telur saya ukurannya relatif kecil, hanya sekitar 17mm. Huft.. Dokter pun menghitung-hitung dan bilang bahwa masa subur saya baru dimulai tanggal 13 Juli 2020 dan diberi jadwal kontrol di hari itu untuk memastikan lagi sel telur dan dinding rahimnya (Tuh kaan!! Adminnya sih.. kalo gini kan jadi 2x bayar toh, hufft lumayan bok 150rb bisa buat spa di Laseca haahaha!). Dengan perasaan dongkol ke adminnya, akhirnya saya iyakan untuk kontrol (lagi) di tanggal 13Juli2020.

Di hari itu, dokter menyuruh saya stop konsumsi Folavit dan menggantinya dengan Ovacare. By the way, Ovacare ini 10x lipat lebih mahal daripada Folavit, tapi dengan kandungan vitamin yang lebih banyak dan kompleks. Plus, dosisnya harus diminum 2x sehari (yang biasanya hanya minum folavit sehari sekali). Well okay, demi beranak pinak, apapun akan kulakukan cyin!

Biaya yang dikeluarkan: 
Biaya Pendaftaran Pasien Lama: 13.000
Konsultasi&USG Trans-V:145.000
Obat-obatan (Ovacare 30caps): 312.000
Kondom (untuk covering alat USG): 3.000
Face Shield: 8.000
TOTAL: 481.000


Hari Senin, 13 Juli 2020.
Sesuai jadwal yang udah ditentukan, saya ke mari lagi. Seperti hari sebelumnya, saya harus cuci tangan dulu kemudian masuk ke meja admin untuk ditensi, ditimbang, dan ditanyakan HPHTnya. Kali ini saya berangkat lebih awal (tapi tetep aja dapet urutan buntut haha!). Tapi karena dokternya juga dateng awal, jadi proses antriannya nggak terlalu lama. Sebelum Maghrib saya udah diperiksa dan sudah bisa pulang.

Hari ini sih nggak terlalu banyak bedanya sama hari kemaren. Seperti kemaren, saya di USG Trans-V. Nggak terlalu banyak berubah, termasuk sel telur yang masih kecil yaitu 17,8mm. Tapi dinding rahim sudah mulai menebal. Dokter tadinya mau menjadwalkan hubungan sama suami, tapi berhubung suami nggak pulang, jadinya dokter pun urung bikin hehe. Problemnya dari awal sebenernya dah ketauan, yaitu sel telur yang kecil (walaupun bisa matang). Akhirnya, dokter menjadwalkan tes hormon progesteron lagi di tanggal 23 Juli 2020, kemudian suruh balik kontrol di hari ke 3 atau ke 4 haid berikutnya. Juga disuruh lanjut minum Ovacare sampe sebulan berikutnya (Ovacare ini bisa dibeli bebas di apotek tanpa resep). Canggihnya, dokter Enny memperkirakan saya bakal haid di tanggal 1 Agustus, sama persis kayak estimasi yang ada di aplikasi kalender hp. Ihiiy!! Kalo bener dan nggak meleset, bisa jadi masa subur selanjutnya bisa pas waktu Vido balik ke Jogja. Ehehehe!

Well! Tinggal nunggu jadwal tes hormon progesteron dan kontrol selanjutnya di awal Agustus. See ya!!

Tips: Lebih baik pake rok saat kontrol. Entah kenapa, saya lebih nyaman pake rok saat kontrol, terlebih jika harus USG Trans-V. Jadi, walaupun underwearnya dilepas, at least masih ada rok yang menutupi di sekitar situ ehehehe.

Biaya yang dikeluarkan: 
Biaya Pendaftaran Pasien Lama: 13.000
Konsultasi&USG Trans-V:145.000
Kondom (untuk covering alat USG): 3.000
Face Shield: 8.000
TOTAL: 169.000



Sekarang ini sosial media udah kayak kebutuhan primer yang setiap orang wajib banget pake. Hampir nggak mungkin banget orang jaman sekarang nggak pakai sosmed, walaupun bukanya jarang-jarang, pasti tetep punya. Yang agak bikin serem di saya, beberapa orang mulai berkiblat sama sosmed. Jadi kayak keracunan sosmed gitu lho.

Contohnya, platform Instagram (well, mari fokus sama platform ini dulu ya, karena bakal panjang). Saya inget banget, awalnya instagram cuma dimiliki sama iPhone users. Anak Android cuma gigit jari tuh, apalagi anak Blackberry! Lalu kemudian ketika instagram udah bisa didownload oleh Android, mulai deh menjamur postingan-postingan di instagram. Awalnya, orang-orang seperti normal aja gitu postingannya, misal kegiatan sehari-hari, foto sama temen, atau foto pemandangan/hewan peliharaannya. Makin ke sini, para instagram users mulai memfokuskan jenis kontennya masing-masing sesuai sama yang mereka ingin post. Ada yang posting cuma pas liburan, ada yang posting cuma pas lagi makan, ada yang posting pemandangan, ada yang posting cuma pas olahraga, ada yang posting kehidupan sosialitanya, ada yang posting kegiatan sehari-hari tapi memorable misalnya saat ulang tahun, lulus kuliah, lamaran, menikah, hamil, melahirkan, dan foto-foto bayinya yang instagrammable.

Racun kah itu? Enggak. Itu lumrah guys. Lalu racunnya di mana? Ya saat orang lain sudah mulai berkiblat sama postingan tersebut. Dan juga, saat orang lain sudah mulai mengukur kehidupan dari postingan. Juga ketika orang mulai judging dari postingan.



Okay.

Bagi saya, orang punya cara masing-masing untuk pamer. Dan, menurut saya, pamer itu adalah salah satu bentuk kebanggaan diri yang sudah berhasil mencapai sesuatu yang ditargetkan. Nggak salah sih menurut saya, selagi masih bisa dilihat positifnya. Dan, menurut saya, orang pun bebas untuk posting apapun yang mereka mau di sosmednya. Toh itu akun mereka sendiri, dan sosial media memang salah satu tujuannya merupakan ajang untuk pamer baik langsung maupun nggak langsung. 

Pamer masing-masing orang juga beda-beda. Contoh nih yang sering ada di feed saya, misal pamer soal pekerjaan. Ada yang pamer pencapaian-pencapaian profesinya, misal posting ketika menerima penghargaan di kantornya. Ada yang pamer suaminya gaji banyak, jadi postingnya sering dibeliin suaminya hadiah (berikut dengan caption Alhamdulillah blablabla). Ada yang pamer udah bisa beli rumah sendiri, makanya posting proses pembangunan rumahnya dengan caption Alhamdulillah blablabla. Ada yang pamer tabungannya banyak, makanya bisa posting saat liburan ke luar negeri. Ada yang pamer kantornya banyak benefit, makanya bisa posting dinas kerja ke luar kota/negeri dibayarin kantor sambil piknik terselubung. Ada yang pamer kantornya informal makanya posting pake kerja pake baju main di kantornya yang lucu plus instagrammable. Ada yang baru dilamar di restoran hotel bintang lima sama pacarnya yang anak konglomerat, jadi diposting lah fotonya. Ada yang baru menikah, makanya diposting lah fotonya. Ada yang baru melahirkan, makanya posting foto anaknya pake jasa foto newborn.

Tenang. Jangan julidin saya dulu. Wong saya juga termasuk sama orang-orang yang saya sebutin di atas. Hahaha!

Gini. Hal di atas itu menurut saya manusiawi ya. Manusia pada kodratnya juga ingin terlihat lebih baik di depan manusia yang lain. Entah gimana pun caranya. Dan, baik buruknya manusia itu juga tergantung sudut pandang masing-masing. Bisa jadi satu hal ini baik untuk saya tapi nggak baik untuk kamu. Gitu juga sebaliknya.

Racun di sosial media, menurut saya, juga relatif. Hal itu tergantung dari masing-masing orang. Jadi, memang seharusnya pengendalian itu ada di diri sendiri. Kenapa bisa gitu? Karena, pertama, kita nggak bisa mengatur hidup orang lain. Kita nggak bisa memaksa atau menyuruh orang lain untuk melakukan ini dan itu, termasuk melarang posting hal yang berbau pamer di sosmed. Tapi kita bisa mengatur dan menentukan diri kita sendiri. Menentukan seperti apa orang-orang yang akan kita follow. Menentukan apakah orang yang kita follow cukup memberikan motivasi atau menimbulkan iri hati dan insecurity. Kita juga bisa menentukan konten apakah yang akan kita upload di sosmed. Kita juga bisa menentukan apakah diri kita akan terpengaruh oleh feed yang ada di sosmed. Pokoknya, sejauh ini, hanya diri kita sendiri yang bisa menentukan mau dibawa ke mana masa depan sosmed dan pengaruhnya terhadap hati kita.

Kedua, racun bisa jadi relatif tergantung mood kita. Saya ngerasain sendiri. Contoh, saat ini saya sedang program hamil. Saat mood saya sedang baik, lihat maternity posts rasanya ikut senang, termotivasi supaya lebih semangat lagi promilnya. Tapi kalo pas lagi mellow, bisa-bisa lihat temen posting foto anaknya aja rasanya udah sedih banget sambil meratapi kenapa kok nggak dikasih-kasih juga. Nah, kalo sudah begini, jadi racun diri sendiri juga kan? Padahal si temen nggak ada salah apapun lho. Jadi, timing saat memainkan sosmed memang harus baik, ketika kondisi mental kita juga sedang siap untuk bermain sosmed. Kalo enggak yaa, postingan sepositif apapun juga bisa jadi negatif bahkan jadi toxic.

Ketiga, racun disebabkan karena kita terlalu into sosmed. Oleh karena itu banyak orang yang bilang, hiduplah di dunia nyata dan jangan hidup di sosmed. Karena apapun yang ada di sosmed hanyalah satu bagian dari hidup. Tidak semua yang kita lihat di sosmed itu real. Dalam artian, kita nggak pernah tau maksud hati orang lain saat upload konten di sosmednya. Kita nggak bisa judging people by scrolling their feeds. Karena seperti yang udah saya bilang di atas tadi, orang-orang akan menentukan sendiri konten seperti apa yang akan mereka posting di sosmednya. Jadi jangan dijadikan kiblat. Misalnya, lihat si A posting foto dengan pacarnya yang selalu liburan ke luar kota. Lalu banyak netizen yang bilang bahwa mereka adalah couple goal. Lalu apakah si A bisa dijadikan kiblat? 
Sebaiknya jangan. Kita nggak bisa compare kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, terlebih yang hanya kita lihat di dunia maya. Kita nggak pernah tau kehidupan si A di balik sosmednya, apakah dia harus kerja keras dan nabung dulu sebelum bisa liburan, atau bahkan dia nggak punya tabungan sama sekali for the sake of instagram feeds. We never knew it pals! Jadi jangan dijadikan kiblat. Dijadiin motivasi boleh nggak? Boleh aja, selama itu positif. Misalnya bisa jadi penyemangat supaya nemuin pacar yang bisa diajakin liburan, atau dijadiin motivasi supaya kerjanya lebih semangat lagi biar bisa sering-sering liburan.

Saya pernah punya temen yang hampir semua fotonya adalah posting bareng pacarnya entah itu lagi liburan atau hanya sekedar dinner bareng. Setiap fotonya dikasih caption yang sweet banget seolah pacarnya adalah yang paling baik dan ngertiin dia banget. Tapi, setiap story di instagramnya selalu maki-maki orang lain dan selalu bicara tentang ganggu laki orang. Bicara tentang pelakor. Ternyata baru ketauan belakangan, saat dia udah putus, bahwa pacarnya itu kasar banget, suka selingkuh, posesif, pokoknya makan hati bangeeet gitu lah. Nah nah nah. Bener kan? Kita nggak pernah tau kehidupan nyata orang lain, yang kita lihat hanyalah apa yang mereka pengen tampilkan aja. Selebihnya, tinggal kitanya aja yang mau gimana nanggepin sosmed. Hanya sekedar sosmed atau bisa mempengaruhi kehidupan nyata kita?

Jadi, hati-hati. Racun sosmed itu kadarnya beda-beda tiap orang. Bisa jadi, instagram si A merupakan racun buat saya, tapi justru jadi motivasi buat kamu. Begitu pula sebaliknya. All we can do is only be wise to use socmed. Karena kita sendiri yang bisa mengukur kesehatan hati kita supaya bisa tetep bisa main sosmed dengan kadar yang pas dan terhindar dari segala macam negativity, insecurity, dan racun-racun lainnya yang bikin hati panas/nggak tenang. Nggak masalah kok untuk mute/unfollow akun-akun yang sekiranya bikin toxic di diri kita (walaupun akun itu milik temen kita sendiri dan nggak punya salah sama kita) untuk menghindari rasa-rasa negatif yang ada. Atau jika semuanya lagi terasa negatif, boleh banget uninstall sosmed supaya nggak tergoda untuk mainin dulu. Detox sosmed ini sangat berguna buat ngehindarin segala negativity yang ada di sosmed. At least, kesehatan hati kita yang paling penting. Jika udah terlanjur keracunan sosmed, segalanya akan jadi negatif dan nggak baik juga untuk kehidupan nyata kita. Iya kan?

Much love,





I used to hate Friday. I even forget why I used to hate Friday. All I remember is only that day was always bad day to me.

Yeah, suddenly (after hardly remembering) I just find out why I used to hate Friday. Often bad day on Friday. Starting from killer lecturer on Friday schedule, no date on Friday, no even friend could be hanging out on Friday, or just last minute task submission on Friday. Those old days, so many bad things happened on Friday. Oh hooo! Just so childish to look who I was miihihihi. But OK, that was teenagers always do.

Nowadays, when i am 10 years older than i was, i really love Friday. YES DEFINITELY! Mostly because I am an officer which has to work from Monday to Friday so Friday will be a nice day to end the week. I can imagine what I will do in the next blank two days. So fun. Even it's just watching netflix all the day and planning to have "cheating indomie-day". Just like many people do, I do really love Friday so I often sleep lately on Friday to do so many things without having worry to wake up late. 

Just like today. Friday, July 10, 2020. Still working to finish some tasks then I will be free after that. Uhuy! But all I do now is blogging. Okiiiie, I will finished my tasks after thissss! Promise! I have planned to finished my tasks before 7.30pm then I will cook some cheating dinner (re: Indomie hahaha!). I also have listed miniseries in Netflix to be watched tonight. How simple my happiness is. 

I just realize that people change. And so do I. Me, the same person in different time, hating Friday in 10 years ago and really love that day (so much) on this day. So freaking weird to realize that but yeah that's one of my random thoughts. Me growing everyday and have changed in many ways and many things, including the fact that I did hate Friday before I love it many years after.


Hihihi, much love!



Para kaum LDR pasti kerasa banget ya, setelah ada pandemi jadi rada susah ketemu sama pasangannya. Saya juga ikutan berasa banget secara saya dan Vido LDR Jogja - Cilacap dan biasa ketemu seminggu sekali. Setelah pandemi (sekitar akhir Maret) sampe sekarang, terhitung baru sekali Vido pulang, itu pun nggak berani naik angkutan umum. Huft.

Alasannya sih, pertama, karena saya masih tinggal di rumah orangtua selama suami jauh di Cilacap. Walaupun (saat itu) Cilacap masih zona hijau, rasanya kurang baik aja jika dia pulang ke rumah orangtua saya. Kan mama sama papa udah tua (hiks). Takut ada resiko carrier dan semacemnya.

Kedua, kami ditolak untuk menginap di rumah kami sendiri. Jadi, RT di rumah kami menolak kedatangan kami, entah apa alasannya. Sebelumnya paguyubannya sudah membolehkan, lalu tiba-tiba minta surat sehat, lalu tiba-tiba lagi nggak membolehkan alasannya setelah berbagai pertimbangan dari satgas dan RT. Huft. Ya sudah lah. Saya sih mikir positif aja, karena kami nggak pernah nempatin rumah itu dan kebetulan area situ masih zona hijau dan nggak ada PDP ODP sama sekali. Wehehe. Anehnya, saat saya ambil barang di sana, ada tetangga yang lewat dan justru nyuruh saya untuk segera nempatin rumahnya. Hahaha! Lucu. Lha wong nggak boleh sama paguyubannya kok ya.

Akhirnya, rencana Vido untuk pulang saat lebaran pun gagal.

Lalu tiba-tiba, pas lagi ngitungin masa subur (tante-tante promil nih ceritanya), kok kayaknya bisa nih kalo Vido balik tanggal 12 Juni. Kan tanggal segitu udah lewat lebaran, jadi kemungkinan pulang jadi lebih lancar. Masalah nginep, jujur aja saya udah nggak mau ribet-ribet lagi, jadinya saya ajakin Vido untuk staycation aja di penginepan. Vido pun setuju dan dia akhirnya ambil cuti supaya bisa pulang dari hari Jumat sampe Minggu. Rencananya, Vido bakal pulang naik motor. Kami sih pasrah aja ya, misal di tengah jalan ada razia pemudik, ya sudah pahit-pahitnya yaa balik lagi ke Cilacap. Kami sih bismillah aja, jika Allah mengizinkan, Insya Allah dilancarkan segalanya.

Vido on the way dari Cilacap di tanggal 12 Juni 2020 sekitar jam 09.00. Saya kebetulan ada perlu ke kantor di hari itu, jadi sekalian saya bawa perlengkapan staycation. Jadi, nanti pulang kantor langsung ke penginepan. Nggak bawa banyak sih, cuma bawa baju buat berdua selama 3 hari sama perlengkapan-perlengkapan penting lainnya. Vido sengaja nggak bawa banyak barang supaya nggak ribet. Alhamdulillah, perjalanan Vido lancar, nggak ada pos-pos penjaga yang cegatin dia. Sepertinya sih karena Vido naik motor dan platnya AB (plat Jogja) jadi dibiarin lewat. Soalnya, katanya, masih banyak kendaraan yang dicegat.  Tapi rata-rata cuma mobil doang sih yang disuruh berhenti. 

Kami nginep di Hotel Tjokro Style di Jl. Menteri Supeno Jogja. Nggak jauh-jauh amat dari rumah orangtua saya. Letaknya juga di kota jadi gampang kalo mau pesan makanan online. Check in jam 14.00 dan check out jam 12.00. Di sini nggak ada ketentuan khusus selama pandemi, hanya saat datang, suhu tubuh harus di cek. Saya sampe di Hotel jam 15.00. Vido dah duluan sampe sana. Kami pun langsung check in dan naik ke kamar. Kesan saya pertama kali adalah hotelnya lucu banget. Photogenic banget. Buat para instagram users pasti demen deh ke sini karena banyak spot-spot yang instagrammable. Kami (sayangnya) dapet kamar yang kurang instagrammable. Ya sudah sih ya, we got what we paid. Ehehehe. Udah syukur masih bisa ketemu suami di masa pandemi gini. Dapet hotel harga promo pula.





Pertama kali yang saya lakukan ketika sampe di kamar adalah: Nyemprot semua bagian lantai, karpet, meja, kursi, sudut, toilet, wastafel, pokoknya semua bagian di kamar hotel kami semprot semua pake desinfektan. Saking parnonya. Bagian yang nggak kami semprot cuma area kasur aja. Sambil agak ngeri-ngeri sedap gitu dan banyak-banyak berdoa semoga spreinya steril. Kami sih udah pastiin ke pihak Hotel kalo sprei dan atributnya semua baru diganti. Jadi ya modal percaya aja dah.

Akhirnya. Setelah hampir 3 bulan nggak ketemu, saya bisa ketemu suami juga. Alhamdulillah. Cukupan lah 3 hari. Walaupun kami cuma stay di hotel dan nggak keluar sama sekali (kecuali ambil orderan online). Tapi hotelnya nyaman banget sih, jadi kami betah-betah aja. Dan, selama kami stay di hotel, kami nggak mengijinkan petugas hotel membersihkan kamar. Karena masih parno, kami nggak mau ada orang lain yang masuk ke kamar dengan tujuan apapun ehehehe. 
Sekarang tinggal nyiapin amunisi untuk LDR lagi sampe entah kapan. Rencananya sih di Agustus Vido bakal balik lagi. Moga-moga dilancarkan, entah nanti nginep di rumah atau di hotel. Mana aja deh yang lebih ngirit dan lancar-lancar aja hehehe.

Sekian dulu ya curhatan kali ini. Buset panjang beneeeur dah! Semoga pandemi Covid19 segera usai supaya semua yang lagi jauh dengan keluarga/kerabat/orang terdekat bisa segera ketemu tanpa perlu was-was lagi. Aamiin


Kali ini saya ingin berbicara tentang mantan. Termasuk pasangannya mantan dan mantannya pasangan.




Saya berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan mereka. So far, saya dan suami cukup baik menjalin hubungan dengan mereka, kecuali untuk mantan yang terakhir (karena memang lost contact dan terakhir contact tidak dengan baik-baik) dan mantan terakhir suami (karena beliau ngeblock kami tanpa tau kenapa, trus setelahnya saya SMSin terus jadi beliau marah). Selebihnya saya dan suami berhubungan baik dengan para mantan. At least bukan yang sering berkomunikasi. Ada juga mantan yang nggak saya simpan kontaknya dan nggak saling follow di sosial media, tapi kalo ketemu (misal ada reuni) masih baik-baik aja, saling sapa dan ngobrol. Ada juga mantan yang masih beberapa kali nongkrong bareng (sama temen-temen yang lain juga). Bahkan ada juga yang berhubungan baik dengan pasangannya mantan, beberapa kali chatting sama pasangannya si mantan. Suami saya bahkan kenal dengan beberapa mantan saya, seperti saya mengenal mantannya suami.

Banyak orang yang merasa bahwa mantan itu tidak perlu diingat lagi. Banyak orang yang bilang bahwa kita nggak usah mengaduk-aduk lagi masa lalu dengan mantan. Kita nggak perlu berhubungan lagi dengan mereka. Terlebih saat mantannya pasangan marah saat saya sms-smsin terus (yaa abisnya kami diblock, saya kan penasaran alasannya kenapa), beberapa temen saya menasehati bahwa kita boleh-boleh aja kepo, tapi nggak perlu lah kita ngehubungin dia.

Wait.

Di sini saya punya pemikiran berbeda.


Mantan, biar bagaimana pun, adalah teman kita juga. Asal muasalnya juga dari teman. Bahkan, saya punya mantan yang dulunya adalah sahabat dekat dan baik (well, nggak semua sahabat jadi cinta berjalan mulus gaes!). Menurut saya, jika sudah jadi mantan, ya sudah. Balik lagi aja temenan kayak sebelum pacaran. Balik aja menganggap mantan seperti temen-temen di circle tersebut. Yah, mungkin ada jeda waktu beberapa saat untuk menetralkan semuanya sebelum memutuskan untuk berteman lagi. Tapi, buat saya, menjalin hubungan baik dengan mantan itu penting sekali ya. Buat apa? Yaa, alasannya adalah sama ketika kita mempertahankan hubungan dengan teman-teman lama kita. Apalagi jika mantan itu satu circle dengan kita, misalnya teman kampus atau teman sekolah, yang pasti nggak akan bisa kita hindari kalo (misalnya) ada undangan pernikahan atau reuni. Belum lagi kalo ternyata (suatu saat) kita nggak sengaja sekantor atau satu profesi sama mantan dan sering ada meeting atau diklat bareng. Kalo udah gitu, masa mau diem-dieman? It's awkward guys! 

Betul, pahit atau manis, kita punya kenangan masa lalu dengan mantan. Betul juga bahwa kita memiliki rasa cemburu dengan mantannya pasangan. Oleh karena itu, berteman lah dengan mantan saat kita meyakini bahwa kita dan pasangan sudah 100% move on. Saya sendiri, masih sering teringat kenangan dengan mantan. Apalagi saya orangnya selalu gampang nostalgia. Lewat satu jalan, terus teringat kenangan di situ entah sama siapa (nggak melulu sama mantan ya). Kalo udah gitu, seringnya ngobrol sama suami. Saya sering sekali ngobrol tentang mantan sama suami saya. Ngebahas mantan. Ngebahas dulu sama mantan ke mana aja, kenangan apa yang lagi teringat, itu saya ceritakan ke suami. Hal itu udah lumrah banget di kehidupan rumah tangga saya. Kadang suami juga cerita tentang mantannya, misal kami lagi makan atau dateng ke tempat di mana dia dulu pernah ke situ juga sama mantannya. Tapi kami berdua sudah memastikan bahwa kami sudah move on. Saat menceritakan itu, kami pun sudah nggak ada perasaan apapun lagi kecuali mengenang yang dulu-dulu. Setelah itu, ya sudah. Kembali lagi ke masa sekarang dan nggak ada baper-baperan. So simple kan? Karena penting sekali untuk terbuka sama suami, apapun itu. Terlebih soal mantan. Supaya nggak ada rahasia apapun lagi sama suami, jadi hidupnya pun jadi lebih nyaman.

Temenan sama mantan bukan berarti kita harus intens berkomunikasi sama dia. Tapi lebih ke menjaga hubungan pertemanan supaya nggak jadi musuh. Komunikasi sesekali aja, kadang main bareng sama temen-temen lainnya (jika satu circle), atau bisa aja meet up bareng pasangan masing-masing. Don't worry, kita nggak perlu seintens itu dengan mantan. Kita bisa kasih batasan-batasan kepada mantan. Kita hanya perlu menjaga supaya nggak ada permusuhan dengan mantan. Kita hanya perlu menempatkan posisi mantan sama dengan posisi teman-teman yang lain. Dan nggak perlu juga sering-sering bahas yang dulu-dulu sama si mantan. Selain takut bikin baper, juga perlu jaga perasaan pasangan masing-masing. Jadi kalo lagi komunikasi sama mantan, seperlunya aja dan bahas yang penting-penting aja. Kalopun pengen say hello dan ngobrol yang nggak penting, ngobrol lah dengan baik dan benar jangan melebar ke mana-mana (kecuali sama-sama single ATAU sama-sama sudah move on dan nggak bakal baper). So, jangan tempatkan mantan di tempat sampah. Tempatkan posisi mantan sama dengan posisi teman-teman kita yang lain. Jika nggak ingin temenan sama mantan, cukup tempatkan posisi mantan sama dengan teman lama yang udah lama nggak ketemu. Nggak perlu temenan tapi juga nggak perlu musuhan, iya kan?

Takut baper? CLBK? Atau takut selingkuh sama mantan?
Bisa banget hal itu terjadi. Tapi, lebih bisa lagi hal itu terjadi secara LUAS nggak hanya dengan mantan. Maka dari itu, pastikan lagi bahwa masing-masing udah 100% move on. Buat saya, baper atau perselingkuhan terjadi bukan karena kita kontak dengan mantan. Siapa pun yang nggak bisa menerapkan batasan baik itu dengan mantan atau teman (yang sebelumnya nggak ada hubungan apa-apa) bisa aja terjadi hubungan yang lebih jauh. Jadi kalo untuk masalah baper-baperan atau terjadi hubungan yang lebih jauh, tergantung masing-masing individunya ya. Jika sendirinya nggak bisa menerapkan batasan pada siapapun lalu terjadi hal-hal buruk, ya sudah. Berarti nggak cukup dewasa untuk berteman dan juga nggak bisa menghargai komitmen dengan pasangan. Say game over to your relationship.

Sayang banget jika harus bermusuhan sama mantan. Karena, buat apa kita dulu pacaran jika ujung-ujungnya harus musuhan? Lebih baik nggak usah pacaran sekalian, jadi nggak akan nambah musuh di masa depan. Mantan itu bukan suatu kesalahan. Mantan itu hanya sekedar: kita mencoba membangun komitmen tapi nggak berhasil. Ya kalo nggak berhasil masa mau nyalahin mantan? Masa mau marahan sama mantan? Ya sudah ikhlaskan aja ke-tidak berhasil-an ini. Boleh lah menjauh dulu dari mantan untuk move on. Kasih juga waktu untuk mantan move on dari kita dan setelah move on baru deh starting to make a friend with ex. Kecuali kalo mantannya serem ya, misal kayak psikopat dan suka ngancem-ngancem (saya punya mantan yang kayak gini) lebih baik diblock dan dihindari. Biasanya saya menghindar dari tipe mantan yang seperti ini. Tapi setelah beberapa waktu dan memastikan dia sudah move on, saya pun membuka blokirannya. Dan kami pun (alhamdulillah) sekarang bisa berteman dengan baik :)

Ada juga yang nggak mau temenan sama mantan karena takut pasangannya cemburu atau ingin menghormati pasangannya. Lumrah sih ini. Saya juga nggak bisa memaksakan jika ini alasannya. Tapi yang saya tekankan, nggak perlu bermusuhan dengan mantan. Jika nggak bisa berteman karena ini alasannya, cukup lah nggak perlu bermusuhan. Nggak perlu save kontaknya ataupun saling follow di sosial media. At least, jika nggak sengaja ketemu mantan, sekedar saling sapa atau saling senyum pun cukup. Dan nggak akan menyakiti hati pasangan juga kan? Syukur-syukur bisa kasih pengertian sama pasangan bahwa nggak ada yang perlu dicemburuin karena masing-masing sudah move on. Itu lebih baik lagi.


Bicara tentang mantan memang sensitif dan pemikiran masing-masing beda-beda. Saya pribadi sih cuma pengen nggak punya musuh aja sih. Jika memang nggak bisa temenan, at least nggak perlu bermusuhan. Dan nggak perlu saling menghindar. Nggak ada untungnya juga membenci mantan. Selain cuma bikin penyakit hati, juga malah bikin rasa nggak nyaman di hati jika memiliki perasaan itu ke siapapun. Yang diperlukan cuma kedewasaan diri untuk memahami bahwa yang berlalu ya sudah berlalu. Nggak usah diungkit lagi. Buat saya, mantan nggak ada bedanya dengan temen lama. Sama-sama tau masa lalu kita, sama-sama pernah menjalin pertemanan di masa lalu. Mantan memang letaknya di belakang. Tapi, bahkan sesekali kita perlu menengok ke belakang untuk menyusun tujuan kita di masa depan lho! Jadikan mantan pembelajaran, jangan dijadikan musuh. Ketika sudah bisa berdamai dengan mantan, maka hati kita juga akan lebih damai tanpa ada rasa benci :)

Salam persahabatan!
Spread positivity,



Lupa.
Baru juga 28tahun hidup di Bumi, udah jadi pelupa.



Kemaren, udah pasang reminder di hari Jumat untuk posting #1Minggu1Cerita di webnya. Tapiiiii, akhirnya keskip juga. Padahal udah posted di blog. Udah login juga di #1M1C. Ugh!

Banyak sekali hal-hal yang saya lupakan di beberapa waktu terakhir ini. Memang pada dasarnya saya ini orangnya pelupa. Saya harus pake bantuan reminder di google calendar, itu pun harus bener-bener dilihat lagi. Kadang udah keburu saya thick as done, padahal belom kelar. Ugh!

Nggak cuma lupa posting #1M1C, tapi ada beberapa hal yang saya lupakan. Termasuk di hari Rabu kemaren, seharusnya saya masuk ke kantor karena ada kerjaan yang nggak bisa dikerjakan jika hanya melalui WFH. Tapi, saya lupa. Untungnya, kerjaan itu nggak melibatkan pihak lain. Jadinya, saya rugi waktu aja gitu, karena pekerjaannya jadi tertunda sehari.

Lupa saat kondisi saat ini, di saat wabah corona melanda, sering sekali terjadi entah kenapa. Lupa bayar cicilan, lupa bayar tagihan, atau lupa transfer pun pernah kejadian di 3 bulan terakhir.

Gosh, ingatan saya sepertinya perlu direfresh. Beneran deh. Butuh refreshing. Supaya lebih seger lagi dan nggak gampang lupa, terutama dengan hal-hal yang penting. 

Ada ide refreshing saat #dirumahaja ?


See you at my another story!




Setelah lama sekali, akhirnya saya berniat untuk ikut komunitas 1 Minggu 1 Cerita. Setiap minggunya, saya harus setor cerita. Kalo selama 6 minggu berturut-turut nggak setor cerita, bakal dikeluarin dari grup. Saya belum dimasukin ke grupnya sih, tapi nggak ada salahnya memulai.




Dari dulu, saya emang paling rada susah berkomitmen untuk bloging. Sebulan bisa rajin bloging dan banyak postingan, kadang bulan berikutnya bisa bolong banyak. Padahal blog ini usianya udah 11 tahun. Sayang aja sih kalo saya berhenti. Too many life experience of mine which already written here. Dari jaman sekolah sampe udah punya suami, semua ada tulisannya di sini. Kadang lucu juga kalo lagi baca-baca postingan saya yang dulu-dulu. Hehehe.

Yang paling susah itu, karena saya sekarang cukup sibuk. Bikin saya nggak sempat lagi utak-atik blog dan sosial media yang lain. Waktu kerja yang cukup menyita waktu, dan setelahnya saya jadi pengen chilling kayak nonton netflix atau sekedar bobo lebih cepet, bikin blog dan sosmed lainnya jadi nggak keurus.

Baiklah. Mulai hari ini, dibantu oleh komunitas #1Minggu1Cerita, saya akan memulai untuk berkomitmen menulis. Seperti yang pernah saya tulis di postingan lama saya, tulislah walau hanya sepenggal kata. Jadi, setiap minggunya akan ada cerita dari saya, apapun itu. Bwehehehe.


See you at my another story!