pict source

Tulislah sepenggal kisah, walau hanya segelintir kata.

Karena itu akan menjadi prasasti yang akan kau kenang dua puluh tahun kemudian.

Iya, karena hanya lewat tulisan lah, sebuah kenangan bisa bercerita. Mengkristalkan sebuah nostalgi yang bisa menggetarkan isi hati. Lewat tulisan, sebuah kenangan bercerita mengenai mimpi dan asa di masa muda yang abadi. Yang akan kau sadari di banyak tahun kemudian, bahwa keabadian itu hanyalah di masa itu saja. Selebihnya, kau akan terus berjalan.

Beberapa cerita sudah saya tuliskan di blog ini. Sudah sembilan tahun lamanya saya bercerita, biarpun banyak cela dan kontra, namun semuanya sudah dibekukan oleh waktu. Kenangan masa putih abu, kenangan masa sulit dalam perkuliahan, kisah cinta yang pathetic, semuanya tertulis dalam blog saya. Apa adanya. Dan tak terasa, semuanya mengendap di sini. Saya pun tak akan pernah takut dan berhenti untuk menuliskan segalanya di sini, biarpun nanti akan ada saatnya saya berhenti karena usia. Biarpun nanti saya berhenti karena nyawa sudah tak ada. Namun, tulisan saya akan terus terendap selamanya.

Tak banyak yang bisa saya katakan. Sebuah film mengajarkan tentang bagaimana kita harus menghargai sebuah memori. Pahit atau manis. Semuanya adalah alas kehidupan kita saat ini. Jangan pernah berusaha menghilangkan satu jejak pun, atau berusaha untuk merubahnya. Selain tak bisa, kau tak akan mendapatkan kisah yang sama lagi. 

Cerita membuat saya banyak belajar. Betapa dua puluh lima tahun hidup saya hanya sepercik lalu. Saya takut. Saya takut hanya sekejap, kemudian tahun demi tahun kembali berlalu. 

Apa yang harus aku lakukan?

Tentu saja, terus merekam segalanya dalam cerita. Selamanya.
Dan, nantinya akan ada orang yang bisa mengenang kita, melalui cerita..


Sudah lama sekali saya ingin pergi ke pantai yang jarang didatangi oleh banyak orang. Ketika saya dan teman-teman memutuskan untuk pergi ke pantai ketika libur natal, saya agak pesimis untuk mendapatkan suasana yang sepi dan syahdu di pantai. Ya iyalah, liburan gini mana ada yang sepi yeekan book! Tapi ya udah lah, akhirnya cuss ke pantai di siang bolong.

Seperti biasa, kami bertolak ke Gunung Kidul. Tujuan kami adalah ke arah Pantai Wedi Ombo. Setelah sampai di area pantai, kami membayar retribusi sebesar Rp 5.000 per orang (Desember 2017). Hati-hati pungli ya! Jangan lupa minta karcis sesuai dengan jumlah orang dan yang dibayarkan. Setelah membayar dan masuk area pantai, ada plang yang menunjukkan mau ke pantai mana yang akan kami kunjungi. Ada beberapa nama pantai seperti pantai Sedahan, pantai Greweng, pantai Dadapan, dan Kalong. Kami memutuskan untuk ke pantai Dadapan.

Pantai Dadapan merupakan salah satu pantai di area Gunung Kidul yang masih terhitung sepi. Tidak banyak orang yang datang, bahkan saat kami sampai di sana pun tidak ada satu pengunjung yang datang selain kami. Pantai Dadapan masih menjadi satu area dengan komplek pantai Wedi Ombo. Jalan yang dilalui untuk menuju pantai Dadapan ini lumayan terjal dan berbatu. Kami harus melewati jalanan terjal dan berbatu tersebut sekitar 4 kilometer. Hufft! Udah kayak offroad aja nih. Pegel-pegel cuy! But it was okay. Kebanyakan pantai yang masih sepi jalanannya memang selalu terjal. Tapi di salah satu ruas jalan sedang ada pembangunan jalan untuk akses ke pantai. Semoga pembangunan jalan itu bisa selesai secepatnya ya! Heuheuheu.

Akhirnya kami pun sampai di sebuah warung yang bersebelahan dengan tempat parkir pantai Dadapan. Cuaca sudah tidak terlalu panas karena matahari sudah mulai condong ke barat. Kami mengobrol sebentar dengan ibu penjual warung mengenai kondisi cuaca di pantai. Yup, seperti yang diketahui kalo kemaren sempet ada gempa di selatan pulau Jawa yang berpotensi tsunami. Tapi, anehnya waktu kami tanya ke ibu penjual warung, beliau nggak kerasa ada gempa sama sekali, bahkan katanya cuacanya cerah-cerah aja jarang hujan. hmm..

Okay. Kami pun berjalan sekitar 100 meter dari warung menuju ke pantai. Pantai Dadapan terhitung kecil tapi cukup cantik untuk disinggahi. Di sini kita nggak bisa berlarian sejauh-jauhnya atau menyusuri bibir pantai karena pantainya nggak terlalu besar. But it worth to visit kok guys. Saya pribadi pun sangat menikmati suasana di pantai yang tidak terlalu banyak karang dan ombaknya tidak terlalu besar. Mungkin saat itu angin laut sedang jinak. Suasananya enak sekali saat itu untuk bersantai di pinggir pantai. Saya pun cukup puas dengan tertidur di atas pasir dan ditemani debur ombak. Sayangnya, ada karang super besar di sisi timur dan barat pantai yang membuat pantai ini kurang bisa dinikmati oleh pemburu sunset maupun sunrise. Niat kami yang ingin menikmati sunset pun terpaksa diurungkan. Akhirnya kami cukup puas hanya dengan bermain air dan pasir di pinggir pantai. Lumayan, sudah lama nggak tersentuh air laut hehehe.

Lokasi: Pantai Dadapan, Gunung Kidul, DI Yogyakarta
Tiket masuk: IDR 5.000 per orang (Desember 2017)
Parkir: IDR 2.000 (motor)



pembuatan jalan di salah satu cabang ke pantai



jalanan terjal berbatu






jalan setapak menuju pantai Dadapan. duh sorry ya blurr, sambil jalan soalnya :(




pepohonan di sekitar pantai





bweeeee :p







See you at my another journey!


Lamaran resmi.

Setelah lamaran Vido secara personal di bulan Agustus lalu, keluarga Vido pun akhirnya bersilaturahmi ke rumah saya sebulan kemudian. Memperkenalkan diri kepada keluarga saya dan juga membicarakan hubungan kami berdua ke arah yang lebih serius. Istilah jawanya nembung. Ketok pintu dulu. Heuheuheu

Apa aja sih isinya nembung?

Di situ, keluarga inti Vido datang ke rumah saya untuk mengutarakan maksud dan tujuan utama yaitu ingin membawa hubungan kami berdua ke jenjang yang lebih serius. Tapi di sini suasananya lebih santai, hanya seperti orang bertamu/bersilaturahmi saja. Sekaligus membahas tanggal lamaran resminya. Di sini obrolannya terkesan untuk orangtua saja. Saya dan Vido lebih banyak diam dan nurut dengan apapun yang dikatakan orangtua. Kemudian, kami memutuskan untuk mengadakan lamaran resmi di bulan November dan menikah di tahun 2018, tepatnya sebelum bulan puasa.


Lho? Kok tanggal pernikahannya sudah ditentukan?

Sangat penting sekali untuk menentukan tanggal pernikahan karena jika kalian ingin mengadakan resepsi, itu artinya kalian akan berhubungan langsung dengan vendor-vendor pernikahan yang rata-rata harus dibooking jauh-jauh bulan sebelum pernikahan. Di sini, kami menentukan langsung tanggal pernikahan supaya acara kami bisa lebih matang. Terlebih, saya dan Vido bekerja di kota yang berbeda, ngurusin nikahnya pun lebih ribet dan butuh waktu lama.


Lalu, ngapain lamarannya sampe dua kali segala jika tanggal pernikahan sudah ditentukan saat nembung?

Yup, keluarga saya terbiasa dengan lamaran dua kali, yaitu nembung dan lamaran resmi. Nembung biasanya berisi tentang perkenalan antar orangtua, juga pengutaraan maksud untuk hubungan yang lebih serius. Yang menerima hanya keluarga inti saja, biasanya ditemani oleh beberapa saudara kandung dari mama/papa. Kalau lamaran resmi, biasanya dari keluarga calon akan datang bersama keluarga besar. Keluarga kami pun sudah siap menyambut dengan keluarga besar kami. Lalu, selain ada nembung ulang, biasanya akan ditambah acara tukar cincin dan juga perkenalan seluruh anggota keluarga masing-masing.

Tanggal pernikahan ditentukan juga untuk menentukan jadwal cuti masing-masing pihak dan supaya lebih mudah booking tanggal di KUA (ini penting sekali yaa!)

Malah, saya tiga kali lamaran kalo gitu. Dilamar personal, dilamar keluarga inti, dan dilamar secara resmi. Ugh! Ada-ada aja. Ada aja. Ya sudah nggak papa. Yang penting kedua belah keluarga senang hihihi.


Apa saja yang dibawa oleh keluarga Vido saat lamaran?

Saat lamaran personal. Vido hanya membawa cincin dan bunga.

Saat nembung yang pertama. Keluarga Vido datang membawa oleh-oleh dari daerahnya. Kami pun juga membawakan oleh-oleh dari daerah kami.

Saat lamaran resmi. Keluarga Vido membawa cincin dan beberapa makanan dan oleh-oleh yang dikemas sedemikian rupa supaya lebih cantik. Tentunya masing-masing orang pun beda ya. Ada pula yang seserahannya dibawakan saat lamaran. Keluarga kami memilih untuk membawa seserahan saat akad nikah saja. Sehingga saat lamaran, keluarga Vido membawakan 'seserahan' dalam bentuk aneka makanan. Yang biasanya selalu dibawa saat lamaran tentunya adalah Pisang dan Wajik/Jadah/Dodol (pokoknya yang lengket-lengket). I do not have any idea for this, tapi keluarga saya selalu 'mewajibkan' oleh-oleh tersebut saat lamaran supaya masih ada budaya Jawa yang diterapkan.



Apa saja yang harus disiapkan dalam lamaran resmi?

1. Makanan.
Tentu saja acara lamaran akan berakhir dengan makan bersama. Jadi, ini harus benar-benar diperhatikan apakah akan menggunakan jasa catering atau jasa tukang masak. Ada plus dan minus dari masing-masing jasa tersebut.
Jasa Catering akan lebih praktis karena paket lengkap sudah disediakan. Menu lengkap, peralatan makan, meja, dan juga tenaga masak, tenaga saji, dan tenaga cuci piring sudah tersedia. Kita tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan menu yang dimasak, bahkan tak perlu khawatir dengan piring kotor yang tergeletak sembarangan karena ada petugas yang membereskan hal itu.
Kelemahannya apa? tentu jasa catering akan lebih mahal daripada jasa tukang masak biasa. Dan, rata-rata catering memberlakukan minimal order (biasanya minimal ordernya 250pak). Di bawah minimal order akan dikenakan charge. Tentunya akan lebih mahal kan?

Jasa tukang masak juga memiliki nilai plus. Mereka akan memasak di dapur kita dan menyajikan masakan sesuai jumlah orang. Tak perlu pakai charge karena masak sesuai kebutuhan. Tukang masak pun juga menyediakan tukang cuci piring yang berarti kita tak perlu pusing memikirkan piring-piring kotor.
Kekurangannya adalah, kita perlu menyediakan peralatan makan sendiri berikut beserta meja dan taplaknya. Kita juga perlu mengecek jika makanan yang disajikan sudah mulai habis, perlu ada tenaga dari keluarga yang merefill makanan tersebut. Kita juga harus belanja kebutuhan bahan masakannya sendiri. Ribet? Sepertinya tergantung dari masing-masing orang ya, hihihi.

Saya sendiri pada akhirnya menggunakan jasa dari Maheswari Catering. Harganya relatif murah. Menu yang saya pesan adalah paket prasmanan dan 1 gubug. Plus sewa satu paket gubug bakso (baksonya masak sendiri dari saudara) beserta peralatan makan dan tenaga sajinya. Rasanya gimana? Standar sih. Untuk bestik galantinnya nggak enak. Ayam bakarnya enak, tapi agak keras. Sup dan capcay-nya juga enak. Pempeknya lumayan enak.
Saya terkena charge untuk pemesanan saya yang hanya 120 porsi. Yup, seperti di awal saya bilang, rata-rata catering akan memberlakukan charge untuk pemesanan di bawah minimal order 😂 Itu pun makanan saya sisa buanyak syekali! Padahal jumlah orang yang datang sudah sesuai, hanya saya lebihkan 10-20% dari jumlah orang yang hadir.


Jangan lupa sediakan cemilan/snack juga ya! Karena acara dilaksanakan hanya dalam kurun waktu 2-3jam, lebih baik snack yang disediakan jangan terlalu banyak supaya tamu tidak kekenyangan dan masih bisa menikmati makan siang. Pengalaman di acara saya, snack yang dipesan sebanyak 4 macam dalam satu kotak. Akibatnya, snack banyak yang sisa dan dibuang (karena hanya tergeletak di dalam dus), juga berakibat buffet makanan juga lebih banyak bersisa.

2. Dekorasi.
Saya tidak pakai dekorasi yang kekinian seperti yang biasa dipake anak-anak muda jaman now yang lagi lamaran hihi. Saya cuma sewa tenda untuk di luar rumah, sewa kain penutup tembok beserta meja dan kursi-kursi yang akan digunakan. Lumayan, bisa irit budget. Saya udah survey untuk jasa backdrop lamaran dan harganya mahal-mahal. Bisa sekitar 2jutaan untuk backdropnya saja. Padahal, untuk sewa tenda all in beserta kain dan kursi, saya hanya mengeluarkan biaya sebesar 1,5juta saja hehehe 😝 Tapi itu balik lagi ke masing-masing orang ya. Jika ingin lamarannya lebih berkesan, bisa dipercantik dengan backdrop yang lucu-lucu. Bisa juga DIY (Do IT Yourself) yaitu membuat sendiri backdrop sesuai keinginan, bisa dibuat dari tissue, kertas, atau kayu. Simpel tapi hasilnya bagus-bagus lho! Yuk cekidot contoh-contoh yang saya ambil dari pinterest berikut ini:
pict source

pict source

pict source

pict source
pict source
Pembuatannya sebenernya simpel, tapi butuh waktu yang cukup lama. Saya sempat mempertimbangkan untuk membuat sendiri backdropnya, bahkan sempat survey pernak-pernik di Jolie untuk beli dedauan/bunga dekorasinya. Tapi akhirnya saya nggak jadi bikin karena udah nggak ada waktu lagi untuk ngerjain backdropnya. Ehehehe
 

3. Tamu Undangan
Hal ini penting untuk menentukan jumlah kursi dan makanan yang akan disajikan. Saya hanya mengundang keluarga saya yaitu saudara-saudara kandung Mama dan Papa, kemudian mengundang Pak RT dan tetangga kanan-kiri. Ah iya, juga mengundang sahabat-sahabat saya yang sudah sangat dekat. Sisanya, tamu dari keluarga Vido. Total tamu yang hadir semuanya adalah sekitar 100 orang.




4. Dokumentasi
Hal yang tak kalah pentingnya adalah dokumentasi. Tentunya acara sepenting ini pasti memerlukan dokumentasi untuk diabadikan, yeekan? Dalam hal ini, sebenarnya nggak terlalu perlu untuk menyewa fotografer jika ingin pangkas budget. Manfaatkan saja saudara atau teman yang bisa memotret, terlebih jika kamu punya kamera yang cukup bagus untuk dipakai mengabadikan momen. 
Saya menggunakan jasa dokumentasi dari Pigeoo Photography untuk satu bundle foto dan video. Awalnya saya nggak terlalu ingin pakai jasa foto, tapi karena Papa ingin momen ini divideokan juga, akhirnya saya menggunakan jasa foto-video dari Pigeoo. Untuk hasilnya gimana? Fotonya bagus, saya sangat puas dengan hasil fotonya, walaupun nggak cukup puas dengan videonya. Tapi overall, Pigeoo bisa dipertimbangkan sebagai salah satu vendor photography yang dapat digunakan untuk acara-acara tertentu. Apalagi ownernya sangat baik dan ramah, saya pun dapat diskon dari ownernya. Uhuuyy!

5. Master of Ceremony
Master of Ceremony atau Pembawa Acara wajib ada dalam acara lamaran. Karena acara saya bukan acara besar, jadi saya hanya menggunakan seorang ustad untuk menjalankan tugas membawakan acara berikut untuk memimpin doa di penghujung acara. Karena acara saya terhitung sederhana, sehingga tak perlu menggunakan MC yang terkenal, cukup dari anggota keluarga ataupun dari orang yang dikenal saja. Perlu ditentukan juga susunan acaranya supaya acara tidak berantakan. Susunan acara sebaiknya dibuat simpel dan tidak terlalu banyak. Berikut ini saya contohin susunan acara di lamaran saya yaahh:

Susunan Acara Lamaran:
  1. Pembukaan
  2. Sambutan dari Pihak Laki-laki beserta proses lamaran
  3. Sambutan dari Pihak Perempuan beserta jawaban lamaran
  4. Tukar Cincin
  5. Perkenalan dari Pihak Perempuan
  6. Perkenalan dari Pihak Laki-laki
  7. Doa
  8. Makan bersama
  9. Penutup

6. MUA/Make Up Artist
Karena nggak pengen ribet, akhirnya saya menggunakan jasa MUA untuk memoles wajah saya beserta mama dan kakak adik saya. Di sini saya menggunakan jasa dari Charisma MUA yang sebelumnya pernah saya lihat hasilnya di wisudaan temen heheheu. Alasan lain menggunakan Mbak Noven, si owner Charisma, adalah beliau sanggup untuk home service dan ditangani langsung oleh Mbak Noven. Dan, harganya pun worth! Ahihihi. Hasilnya gimana? Saya cukup puas karena hasil makeupnya halus dan nggak dempul. Uuuuw love mbak noveeen!


7. Oleh-oleh/Buah Tangan
Karena seserahan baru diberikan di hari pernikahan, maka saat lamaran resmi keluarga Vido membawa oleh-oleh dalam bentuk aneka makanan yang dikemas mirip seperti seserahan. Di akhir acara, keluarga saya pun juga memberikan balasan berupa makanan sebagai oleh-oleh/buah tangan untuk dibawa pulang sama keluarga Vido. Isinya bervariasi ya, balik lagi ke masing-masing daerah/keluarga. Kebetulan saya dan Vido berasal dari daerah yang berbeda, sehingga ada perbedaan makanan khas yang dibawa. Kalau dari keluarga saya sih, hanya membawakan makanan khas Jogja, kemudian ditambah kue-kue, buah, dan aneka makanan lainnya. Juga menambahkan pemberian kain untuk ibu dan saudara perempuan Vido yang nanti digunakan saat hari H.
pisang, oleh-oleh wajib


8. Pakaian
Saya sengaja menggunakan kebaya tua yang dikenakan mama saya saat malam midodareni. Kenapa? Karena pernikahan saya nantinya nggak ada jawa-jawanya sama sekali, sedangkan mama saya dulu waktu nikah pakai adat jawa komplit. Saya pengen ada salah satu ornamen yang dulunya dipakai sama nikahan mama, yang kemudian juga saya pakai di nikahan saya. Jadi kayak from mother to daughter gitu lhooo, ah! Bwehehe. Akhirnya saya pakai kebaya mama saya. Bawahannya pakai kain sarimbitan sama Vido. Belinya di toko kain Mac Mohan yang terletak di Jl. Urip Sumoharjo. Saya bikin model lilit supaya simpel dan nggak nyrimpet. Untuk Vido dibikin kemeja batik lengan panjang.
Baju yang dikenakan keluarga inti gimana? Seadanya mereka aja sih. Kebetulan keluarga saya sering bikin baju seragam kalo ada acara-acara (misal nikahan sodara atau wisudaan). Maklum sis, keluarga saya isinya cewek semua bwehehe kecuali Papa, tentu aja! Akhirnya, supaya ngirit-irit budget, mereka pakai kebaya dress yang dibikin saat wisudaan saya 3 tahun lalu (APAAH? Jadi ogut udah lulus 3taun yang laluuuu??). Jahitnya di Yasmine Griya Jahit dekat PLN.

Basicly, sebuah lamaran itu depends on each person and the family ya. Adatnya tiap-tiap orang beda-beda. Ada pula yang hanya menerapkan sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing. Seperti apapun acara lamarannya, semua akan kembali ke diri kalian masing-masing (dan keluarga). Yang perlu diperhatikan dalam acara tersebut adalah kesakralan dan hasil akhir dari acara tersebut. Misalnya dengan memperhatikan tanggal-tanggal penting yang ditentukan, juga kesepakatan jenis acara (menggunakan adat/tidak), dan sebagainya. Dengan begitu, acara lamaran akan lebih khidmat dan lebih berfaedah.




NOTE: Kalian bisa langsung email saya di sini untuk mendapatkan kontak para vendor. Saya dengan senang hati akan berbagi segala informasi KECUALI PRICELIST untuk menghargai profesionalisme dan service mereka.
Cheers!


Hello!

Kayak apa sih rasanya dilamar? Seumur-umur, saya nggak pernah memikirkan gimana caranya saya dilamar (in real life). Saya cuma berimajinasi tentang lamaran yang lucu, yang romantis dan penuh dengan perjuangan (ceilah, emang pahlawan?). Tapi, saya nggak pernah memikirkan hal itu benar-benar terjadi di hidup saya. Sungguhan, nggak pernah satu kali pun meski saat itu lagi sayang-sayangnya sama si pacar. Mentok, saya cuma bayangin dilamar bareng sama orangtuanya. Bukan yang dilamar personal kayak yang di tivi-tivi.

Hingga di suatu hari. That things was happened.

Tiba-tiba semuanya serba surprise. Padahal saya susah banget dikasih surprise. Apalagi, Vido, pacar saya, paling hobi gagal kalo mau bikin surprise buat saya.

Padahal Vido adalah orang paling nggak peka sedunia.

A lil bit introduction about Vido ya, I am suddenly getting excited introducing him muehehehe. Vido adalah teman dekat saya sekitar 2-3tahun terakhir. Kok nggak pasti gitu sih? Iya, karena kami memang nggak ada tanggal jadian. But when you guys are getting older, pasti akan merasakan satu titik di mana status nggak terlalu penting. Yang penting adalah gimana kita bisa jaga komitmen yang nggak cukup dibuktikan dengan kata-kata 'kamu mau nggak jadi pacarku?'. Jujur aja, saya dan Vido bukan tipe pasangan yang suka romantis-romantisan. Jarang (hampir nggak pernah) ngomong sayang, lebih sering pergi rame-rame daripada jalan berdua, nggak ada jaim-jaiman, dan sangat jujur satu sama lain. Jujur dalam artian when we're getting bored each other, we're gonna tell it. Jujur dalam hal apapun termasuk gua bilang mulutnya Vido bau naga. Everything. Komitmen itu udah kami build up sejak awal. Dan kami selalu mencoba realistis, saat ada satu misi kami yang nggak sejalan, kami akan segera bicarakan, jika nggak ketemu resultnya, we would decide to separate amitably. Yup, itu beneran terjadi di hubungan kami.

Sejak awal, kami selalu berusaha tetap suitable untuk menjadi teman, kakak adik, mau pun pacar. Vido adalah orang pertama yang begitu terbuka di keluarga saya sehingga sudah seperti keluarga sendiri. When I had to live LDR with him and my family, Vido kept his relationship warm to my family. Saya sadar di satu titik bahwa Vido adalah orang yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan. Vido adalah orang yang sangat enak diajak ngobrol, walau pun itu lagi ngomongin mantan. Tiba-tiba, saya merasa bahwa ini lah klik dalam hidup saya. I am not that fully in love to him but actually I am. Bwehehehee jangan geer ya Vido kalo kau baca ini :)

Then, something big just happened to my life. Vido, unromantic person, put his knee down in front of me, purposing a cute ring for me. FOR ME! Gobloknya, gua malah ngakak-ngakak karena nggak percaya that things happened to my life. Vido, dengan berjuta kekurangan yang tertutup dengan kebaikannya, said that he wants me to be his wife.

HIS WIFE!

Of course, I said YES!

Saya nggak pernah sedetik pun memikirkan di lamar secara personal. Tidak sekali pun dengan Vido.

But he did.

And I said Yes!

Satu hal yang saya pelajari selama berkomitmen dengan Vido. Hubungan yang baik adalah saat kita bisa jujur satu sama lain. Kita nggak perlu saling membahagiakan pasangan. Saya nggak perlu membahagiakan Vido, begitu pun sebaliknya. Membahagiakan orang lain hanya lah kamuflase. Bahagiakan diri sendiri, dan hidupmu akan sangat indah.

Kebetulan, kebahagiaan saya semakin lengkap ketika Vido hadir di hidup saya.



I took this picture from here

Satu rasa sudah mengendap di hati. Kita tak mampu untuk menghindari. Tidak juga diri ini. Hanya Tuhan yang tau kapan semua ini akan mengalir meninggalkan relung hati. Tak sekali pun diri membawa rasa ini. Namun tak kunjung jua pergi.

Aku tau rasa ini tak pernah mati. Bukan berarti aku mengkhianati. Pun jangan dikira aku menikmati. Sesungguhnya aku sangat tersakiti. Ratapan itu terus merobek hati. Menyakiti hati yang sudah amat terkendali.

Ketika sepenggal hati masih terisi, bukan berarti aku ingin terpatri. Dia hanyalah penyejuk hati. Penopang sepi saat hati ingin bernostalgi. Kenangan masa belasan tahun yang tak pernah mati. Hanya aku dan Tuhan yang bisa mengerti. Tidak juga dia pahami. Tidak siapa pun di sini.

Hingga saat itu. Dimensi belasan tahun itu kembali. Tidak terpisah ruang dan waktu. Tidak pula senja di akhir Oktober. Harapan untuk menetralkan segalanya telah buyar. Pengakuannya membuatku kelu. Hingga ku sadari segalanya berada di waktu yang salah. Selama belasan tahun.

Hingga ku sadari. Segala sesuatunya masih sama meski waktunya telah berbeda.

Hingga semuanya terlontar dari bibirnya. Semuanya.

Dia menganggap aku adalah sebuah masalah yang tak kunjung berhenti menghantuinya karena kemunculanku di waktu-waktu tertentu belasan tahun terakhir.
Dia pernah memiliki rasa yang sama di waktu itu. Yang begitu menggebu-gebu. Yang tak pernah berhasil dia ungkapkan kepadaku.
Dan saat aku dulu merasa bahwa perasaan kami tidak sama, dia memilih untuk tidak mempertahankan aku. Dia memilih menyimpan perasaannya daripada mengungkapkannya. Dia memilih untuk melepaskanku bersama orang lain. Dia menganggap aku telah membagi perasaan sayangku untuknya.
Dia masih memiliki perasaan yang sama selama belasan tahun terakhir. Perasaan itu datang dan pergi, tanpa bisa ia kendalikan.
Setelah kejadian itu, dia merasa bahwa waktu tidak pernah tepat
Dia tidak pernah mau mengambil perasaanku dari siapa pun, termasuk dari seseorang yang pernah merebutku darinya.
Dia pernah bilang bahwa dia pernah mempertimbangkanku untuk menjadi partner hidupnya, bahkan aku pernah menjadi doanya saat itu. Saat sebelum dia (akhirnya) mantap menjalani hidup dengan orang lain selain diriku.
But still, I am the one and only for him. Juga tak tergantikan oleh siapa pun. Meskipun tak akan pernah bisa dia miliki lagi. Begitu yang dia ucapkan padaku.
Dia memiliki satu perasaan untukku, yang takkan pernah dia lihat ujungnya, yang tak pernah bisa ia jelaskan perasaan itu. Tidak pula bisa ia pahami untuk dirinya sendiri.
Dia berusaha untuk memperbaiki apa yang pernah terjadi dan yang pernah rusak antara aku dan dia belasan tahun yang lalu.
And surprisingly, dia mengikhlaskanku untuk hidup bahagia dengan pasanganku saat ini. Dia hanya ingin melihatku bahagia, sudah cukup baginya tanpa harus dia miliki.


Ketika semuanya semakin jelas, aku tak ingin mentari pagi berubah menjadi senja. Semuanya terlalu terlambat untuk diperbaiki.

Mungkin ke-absurd-an hubungan kami berdua akan selalu seperti ini.

Saya tak mencintainya lagi. Meskipun sepenggal rasa juga masih terukir di dasar hati. Tidak pula memiliki keinginan untuk hidup bahagia bersamanya. Tidak sekalipun. Saya hanya menyesali elegi yang terus meratap, yang tak seharusnya menjadi elegi.

Yang jika segalanya jelas belasan tahun yang lalu, mungkin aku tak perlu memiliki perasaan yang terus menerus merobek hati.

Ya sudah lah.

Ini lah namanya hidup. Ini lah yang harus dijalani.

Dan surprisingly, aku juga hanya ingin dia bahagia bersama pasangannya. Pasangannya yang baik dan halus hatinya. Yang mampu menentramkan hatinya.

Mungkin aku bisa menentramkan hati seorang laki-laki. Tapi bukan dia.

And I really want to believe,
It has been written.


Elegi by,

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Saya bersiap-siap untuk segera pulang. Mematikan komputer dan membereskan berkas yang berserakan di atas meja. Saya sudah tak sabar untuk segera pulang dan memulai liburan pada hari itu.

Tepat pukul 18.00 kami berangkat ke Gunung Kidul. Kami melewati ringroad timur dan berbelok ke timur, ke arah jalan wonosari. Setelah menyusuri jalanan panjang, akhirnya kami pun tiba di kawasan Pantai Gunung Kidul.

Setelah membayar retribusi sebesar Rp 10.000 per orang [tahun 2016], kami segera memasuki kawasan Pantai Sepanjang. Angin pantai sudah bertiup kencang, namun kami tak berhenti berjalan. Melewati Pantai Sepanjang, kemudian kami berjalan ke arah barat. Dan tak lama berselang, sampai lah kami di tujuan.

Beberapa orang lain sedang mendirikan tendanya, namun kami masih berunding. Masih ada satu bukit yang lebih tinggi untuk didirikan tenda, sayangnya terlalu miring. Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di bukit pertama. Kami tidak dapat melihat pantai karena hari sudah gelap. Namun bintang-bintang bersinar indah. Saya tergeletak di rumput yang beralaskan matras, memandang kelip bintang yang jauh di sana ~~ (halah! fokus!!). Bintangnya bagus sekali, ini lah pertama kalinya saya camping ditemani oleh taburan bintang. Biasanya nggak pernah dapet bintang karena cuacanya selalu saja mendung. Teman-teman mulai asyik dengan diri mereka sendiri, sibuk makan, bercerita, atau berdiam diri di sudut bukit menatap pantai lepas. Saya memutuskan untuk tetap terlentang menghadap bintang. Angin berhembus kencang, namun saya tak terganggu. Sesekali saya terpejam, menghirup udara pantai yang saya rindukan karena sudah beberapa bulan absen ke pantai. Hiks.

Ketika mata saya terbuka, ternyata hari sudah pagi. Matahari sudah mulai terbangun di ufuk timur. Hari masih gelap. Langit mulai mendung. Yap, sekian kalinya saya camping tanpa dapat sunrise. Tapi nggak papa, bukan kah 'tidak mendapatkan sunrise' juga pengalaman berharga? Nikmati saja lah tiap prosesnya karena tak dapat lagi dibeli dengan apapun. Heuheuheu.

Saya sangat bersahabat dengan udara pantai. Nafas saya selalu lega ketika udara pantai terhirup oleh saya. Ketika itu, matahari masih tertutup awan, malu-malu untuk menyinari dunia. Saya beranjak ke salah satu sudut bukit di sisi timur. Menghadap matahari yang memantulkan cahayanya dalam riak dan ombak. Menikmati mahakarya Tuhan yang jarang dinikmati orang lain yang sibuk selfie di pantai. Hihihi (padahal sendirinya juga selfie toh?)

Matahari semakin tinggi. Bukit di seberang sisi barat mulai terlihat. Pantai di bawah bukit pun sudah mulai melambai. Kami memutuskan untuk mulai menyiapkan sarapan. Usai sarapan (yang tidak dihabiskan :'( sedih), kami segera berlari turun ke pantai. Pantai ini masih sangat sepi, saat itu hanya kami saja yang bermain di pantai. Tidak ada orang lain. Jadi berasa private beach gitu deh. Akses untuk turun dari bukit ke pantai pun harus melewati tangga kayu/bambu yang agak rapuh. Mungkin karena itu, orang-orang hanya menonton sang pantai dari atas bukit tanpa berniat untuk turun.

Air pantai. Ah, betapa rindunya tercabik ombak. Baju sudah basah, namun hati tak kalah bahagia. Tidak ada yang bisa membuat saya lebih bahagia saat itu selain menyatu dengan alam.







bweee :p

Lokasi: Pantai Lolang, Gunung Kidul Kawasan Pantai Selatan. Sebelah Barat Pantai Sepanjang. Memasuki kawasan Pantai Sepanjang, kemudian ikuti petunjuk ke arah barat. Ada jalan cabang, pilih yang ke arah kiri.

Biaya yang dibutuhkan:
Sewa tenda dan atributnya: Rp 60.000
Belanja keperluan camp dan snack: Rp 40.000
Makan malam: 60.000
Tiket masuk (6 orang): 60.000
Parkir: Gratis (karena diparkir di camping ground)
Kamar Mandi: 2.000 per masuk.

Total biaya per orang:
Tenda, keperluan camp,makan malam, tiket: 36.000
Bensin PP Jogja-Gunung Kidul: 30.000 (jika boncengan berdua, bisa dibagi dua kan?)
Total per orang: 51.000