#1Minggu1Cerita Week 4: Racun Sosial Media, Relatif?

Sekarang ini sosial media udah kayak kebutuhan primer yang setiap orang wajib banget pake. Hampir nggak mungkin banget orang jaman sekarang nggak pakai sosmed, walaupun bukanya jarang-jarang, pasti tetep punya. Yang agak bikin serem di saya, beberapa orang mulai berkiblat sama sosmed. Jadi kayak keracunan sosmed gitu lho.

Contohnya, platform Instagram (well, mari fokus sama platform ini dulu ya, karena bakal panjang). Saya inget banget, awalnya instagram cuma dimiliki sama iPhone users. Anak Android cuma gigit jari tuh, apalagi anak Blackberry! Lalu kemudian ketika instagram udah bisa didownload oleh Android, mulai deh menjamur postingan-postingan di instagram. Awalnya, orang-orang seperti normal aja gitu postingannya, misal kegiatan sehari-hari, foto sama temen, atau foto pemandangan/hewan peliharaannya. Makin ke sini, para instagram users mulai memfokuskan jenis kontennya masing-masing sesuai sama yang mereka ingin post. Ada yang posting cuma pas liburan, ada yang posting cuma pas lagi makan, ada yang posting pemandangan, ada yang posting cuma pas olahraga, ada yang posting kehidupan sosialitanya, ada yang posting kegiatan sehari-hari tapi memorable misalnya saat ulang tahun, lulus kuliah, lamaran, menikah, hamil, melahirkan, dan foto-foto bayinya yang instagrammable.

Racun kah itu? Enggak. Itu lumrah guys. Lalu racunnya di mana? Ya saat orang lain sudah mulai berkiblat sama postingan tersebut. Dan juga, saat orang lain sudah mulai mengukur kehidupan dari postingan. Juga ketika orang mulai judging dari postingan.



Okay.

Bagi saya, orang punya cara masing-masing untuk pamer. Dan, menurut saya, pamer itu adalah salah satu bentuk kebanggaan diri yang sudah berhasil mencapai sesuatu yang ditargetkan. Nggak salah sih menurut saya, selagi masih bisa dilihat positifnya. Dan, menurut saya, orang pun bebas untuk posting apapun yang mereka mau di sosmednya. Toh itu akun mereka sendiri, dan sosial media memang salah satu tujuannya merupakan ajang untuk pamer baik langsung maupun nggak langsung. 

Pamer masing-masing orang juga beda-beda. Contoh nih yang sering ada di feed saya, misal pamer soal pekerjaan. Ada yang pamer pencapaian-pencapaian profesinya, misal posting ketika menerima penghargaan di kantornya. Ada yang pamer suaminya gaji banyak, jadi postingnya sering dibeliin suaminya hadiah (berikut dengan caption Alhamdulillah blablabla). Ada yang pamer udah bisa beli rumah sendiri, makanya posting proses pembangunan rumahnya dengan caption Alhamdulillah blablabla. Ada yang pamer tabungannya banyak, makanya bisa posting saat liburan ke luar negeri. Ada yang pamer kantornya banyak benefit, makanya bisa posting dinas kerja ke luar kota/negeri dibayarin kantor sambil piknik terselubung. Ada yang pamer kantornya informal makanya posting pake kerja pake baju main di kantornya yang lucu plus instagrammable. Ada yang baru dilamar di restoran hotel bintang lima sama pacarnya yang anak konglomerat, jadi diposting lah fotonya. Ada yang baru menikah, makanya diposting lah fotonya. Ada yang baru melahirkan, makanya posting foto anaknya pake jasa foto newborn.

Tenang. Jangan julidin saya dulu. Wong saya juga termasuk sama orang-orang yang saya sebutin di atas. Hahaha!

Gini. Hal di atas itu menurut saya manusiawi ya. Manusia pada kodratnya juga ingin terlihat lebih baik di depan manusia yang lain. Entah gimana pun caranya. Dan, baik buruknya manusia itu juga tergantung sudut pandang masing-masing. Bisa jadi satu hal ini baik untuk saya tapi nggak baik untuk kamu. Gitu juga sebaliknya.

Racun di sosial media, menurut saya, juga relatif. Hal itu tergantung dari masing-masing orang. Jadi, memang seharusnya pengendalian itu ada di diri sendiri. Kenapa bisa gitu? Karena, pertama, kita nggak bisa mengatur hidup orang lain. Kita nggak bisa memaksa atau menyuruh orang lain untuk melakukan ini dan itu, termasuk melarang posting hal yang berbau pamer di sosmed. Tapi kita bisa mengatur dan menentukan diri kita sendiri. Menentukan seperti apa orang-orang yang akan kita follow. Menentukan apakah orang yang kita follow cukup memberikan motivasi atau menimbulkan iri hati dan insecurity. Kita juga bisa menentukan konten apakah yang akan kita upload di sosmed. Kita juga bisa menentukan apakah diri kita akan terpengaruh oleh feed yang ada di sosmed. Pokoknya, sejauh ini, hanya diri kita sendiri yang bisa menentukan mau dibawa ke mana masa depan sosmed dan pengaruhnya terhadap hati kita.

Kedua, racun bisa jadi relatif tergantung mood kita. Saya ngerasain sendiri. Contoh, saat ini saya sedang program hamil. Saat mood saya sedang baik, lihat maternity posts rasanya ikut senang, termotivasi supaya lebih semangat lagi promilnya. Tapi kalo pas lagi mellow, bisa-bisa lihat temen posting foto anaknya aja rasanya udah sedih banget sambil meratapi kenapa kok nggak dikasih-kasih juga. Nah, kalo sudah begini, jadi racun diri sendiri juga kan? Padahal si temen nggak ada salah apapun lho. Jadi, timing saat memainkan sosmed memang harus baik, ketika kondisi mental kita juga sedang siap untuk bermain sosmed. Kalo enggak yaa, postingan sepositif apapun juga bisa jadi negatif bahkan jadi toxic.

Ketiga, racun disebabkan karena kita terlalu into sosmed. Oleh karena itu banyak orang yang bilang, hiduplah di dunia nyata dan jangan hidup di sosmed. Karena apapun yang ada di sosmed hanyalah satu bagian dari hidup. Tidak semua yang kita lihat di sosmed itu real. Dalam artian, kita nggak pernah tau maksud hati orang lain saat upload konten di sosmednya. Kita nggak bisa judging people by scrolling their feeds. Karena seperti yang udah saya bilang di atas tadi, orang-orang akan menentukan sendiri konten seperti apa yang akan mereka posting di sosmednya. Jadi jangan dijadikan kiblat. Misalnya, lihat si A posting foto dengan pacarnya yang selalu liburan ke luar kota. Lalu banyak netizen yang bilang bahwa mereka adalah couple goal. Lalu apakah si A bisa dijadikan kiblat? 
Sebaiknya jangan. Kita nggak bisa compare kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, terlebih yang hanya kita lihat di dunia maya. Kita nggak pernah tau kehidupan si A di balik sosmednya, apakah dia harus kerja keras dan nabung dulu sebelum bisa liburan, atau bahkan dia nggak punya tabungan sama sekali for the sake of instagram feeds. We never knew it pals! Jadi jangan dijadikan kiblat. Dijadiin motivasi boleh nggak? Boleh aja, selama itu positif. Misalnya bisa jadi penyemangat supaya nemuin pacar yang bisa diajakin liburan, atau dijadiin motivasi supaya kerjanya lebih semangat lagi biar bisa sering-sering liburan.

Saya pernah punya temen yang hampir semua fotonya adalah posting bareng pacarnya entah itu lagi liburan atau hanya sekedar dinner bareng. Setiap fotonya dikasih caption yang sweet banget seolah pacarnya adalah yang paling baik dan ngertiin dia banget. Tapi, setiap story di instagramnya selalu maki-maki orang lain dan selalu bicara tentang ganggu laki orang. Bicara tentang pelakor. Ternyata baru ketauan belakangan, saat dia udah putus, bahwa pacarnya itu kasar banget, suka selingkuh, posesif, pokoknya makan hati bangeeet gitu lah. Nah nah nah. Bener kan? Kita nggak pernah tau kehidupan nyata orang lain, yang kita lihat hanyalah apa yang mereka pengen tampilkan aja. Selebihnya, tinggal kitanya aja yang mau gimana nanggepin sosmed. Hanya sekedar sosmed atau bisa mempengaruhi kehidupan nyata kita?

Jadi, hati-hati. Racun sosmed itu kadarnya beda-beda tiap orang. Bisa jadi, instagram si A merupakan racun buat saya, tapi justru jadi motivasi buat kamu. Begitu pula sebaliknya. All we can do is only be wise to use socmed. Karena kita sendiri yang bisa mengukur kesehatan hati kita supaya bisa tetep bisa main sosmed dengan kadar yang pas dan terhindar dari segala macam negativity, insecurity, dan racun-racun lainnya yang bikin hati panas/nggak tenang. Nggak masalah kok untuk mute/unfollow akun-akun yang sekiranya bikin toxic di diri kita (walaupun akun itu milik temen kita sendiri dan nggak punya salah sama kita) untuk menghindari rasa-rasa negatif yang ada. Atau jika semuanya lagi terasa negatif, boleh banget uninstall sosmed supaya nggak tergoda untuk mainin dulu. Detox sosmed ini sangat berguna buat ngehindarin segala negativity yang ada di sosmed. At least, kesehatan hati kita yang paling penting. Jika udah terlanjur keracunan sosmed, segalanya akan jadi negatif dan nggak baik juga untuk kehidupan nyata kita. Iya kan?

Much love,




0 komentar:

Post a Comment