#1Minggu1Cerita Week 3: Berteman Dengan Mantan (?)

Kali ini saya ingin berbicara tentang mantan. Termasuk pasangannya mantan dan mantannya pasangan.




Saya berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan mereka. So far, saya dan suami cukup baik menjalin hubungan dengan mereka, kecuali untuk mantan yang terakhir (karena memang lost contact dan terakhir contact tidak dengan baik-baik) dan mantan terakhir suami (karena beliau ngeblock kami tanpa tau kenapa, trus setelahnya saya SMSin terus jadi beliau marah). Selebihnya saya dan suami berhubungan baik dengan para mantan. At least bukan yang sering berkomunikasi. Ada juga mantan yang nggak saya simpan kontaknya dan nggak saling follow di sosial media, tapi kalo ketemu (misal ada reuni) masih baik-baik aja, saling sapa dan ngobrol. Ada juga mantan yang masih beberapa kali nongkrong bareng (sama temen-temen yang lain juga). Bahkan ada juga yang berhubungan baik dengan pasangannya mantan, beberapa kali chatting sama pasangannya si mantan. Suami saya bahkan kenal dengan beberapa mantan saya, seperti saya mengenal mantannya suami.

Banyak orang yang merasa bahwa mantan itu tidak perlu diingat lagi. Banyak orang yang bilang bahwa kita nggak usah mengaduk-aduk lagi masa lalu dengan mantan. Kita nggak perlu berhubungan lagi dengan mereka. Terlebih saat mantannya pasangan marah saat saya sms-smsin terus (yaa abisnya kami diblock, saya kan penasaran alasannya kenapa), beberapa temen saya menasehati bahwa kita boleh-boleh aja kepo, tapi nggak perlu lah kita ngehubungin dia.

Wait.

Di sini saya punya pemikiran berbeda.


Mantan, biar bagaimana pun, adalah teman kita juga. Asal muasalnya juga dari teman. Bahkan, saya punya mantan yang dulunya adalah sahabat dekat dan baik (well, nggak semua sahabat jadi cinta berjalan mulus gaes!). Menurut saya, jika sudah jadi mantan, ya sudah. Balik lagi aja temenan kayak sebelum pacaran. Balik aja menganggap mantan seperti temen-temen di circle tersebut. Yah, mungkin ada jeda waktu beberapa saat untuk menetralkan semuanya sebelum memutuskan untuk berteman lagi. Tapi, buat saya, menjalin hubungan baik dengan mantan itu penting sekali ya. Buat apa? Yaa, alasannya adalah sama ketika kita mempertahankan hubungan dengan teman-teman lama kita. Apalagi jika mantan itu satu circle dengan kita, misalnya teman kampus atau teman sekolah, yang pasti nggak akan bisa kita hindari kalo (misalnya) ada undangan pernikahan atau reuni. Belum lagi kalo ternyata (suatu saat) kita nggak sengaja sekantor atau satu profesi sama mantan dan sering ada meeting atau diklat bareng. Kalo udah gitu, masa mau diem-dieman? It's awkward guys! 

Betul, pahit atau manis, kita punya kenangan masa lalu dengan mantan. Betul juga bahwa kita memiliki rasa cemburu dengan mantannya pasangan. Oleh karena itu, berteman lah dengan mantan saat kita meyakini bahwa kita dan pasangan sudah 100% move on. Saya sendiri, masih sering teringat kenangan dengan mantan. Apalagi saya orangnya selalu gampang nostalgia. Lewat satu jalan, terus teringat kenangan di situ entah sama siapa (nggak melulu sama mantan ya). Kalo udah gitu, seringnya ngobrol sama suami. Saya sering sekali ngobrol tentang mantan sama suami saya. Ngebahas mantan. Ngebahas dulu sama mantan ke mana aja, kenangan apa yang lagi teringat, itu saya ceritakan ke suami. Hal itu udah lumrah banget di kehidupan rumah tangga saya. Kadang suami juga cerita tentang mantannya, misal kami lagi makan atau dateng ke tempat di mana dia dulu pernah ke situ juga sama mantannya. Tapi kami berdua sudah memastikan bahwa kami sudah move on. Saat menceritakan itu, kami pun sudah nggak ada perasaan apapun lagi kecuali mengenang yang dulu-dulu. Setelah itu, ya sudah. Kembali lagi ke masa sekarang dan nggak ada baper-baperan. So simple kan? Karena penting sekali untuk terbuka sama suami, apapun itu. Terlebih soal mantan. Supaya nggak ada rahasia apapun lagi sama suami, jadi hidupnya pun jadi lebih nyaman.

Temenan sama mantan bukan berarti kita harus intens berkomunikasi sama dia. Tapi lebih ke menjaga hubungan pertemanan supaya nggak jadi musuh. Komunikasi sesekali aja, kadang main bareng sama temen-temen lainnya (jika satu circle), atau bisa aja meet up bareng pasangan masing-masing. Don't worry, kita nggak perlu seintens itu dengan mantan. Kita bisa kasih batasan-batasan kepada mantan. Kita hanya perlu menjaga supaya nggak ada permusuhan dengan mantan. Kita hanya perlu menempatkan posisi mantan sama dengan posisi teman-teman yang lain. Dan nggak perlu juga sering-sering bahas yang dulu-dulu sama si mantan. Selain takut bikin baper, juga perlu jaga perasaan pasangan masing-masing. Jadi kalo lagi komunikasi sama mantan, seperlunya aja dan bahas yang penting-penting aja. Kalopun pengen say hello dan ngobrol yang nggak penting, ngobrol lah dengan baik dan benar jangan melebar ke mana-mana (kecuali sama-sama single ATAU sama-sama sudah move on dan nggak bakal baper). So, jangan tempatkan mantan di tempat sampah. Tempatkan posisi mantan sama dengan posisi teman-teman kita yang lain. Jika nggak ingin temenan sama mantan, cukup tempatkan posisi mantan sama dengan teman lama yang udah lama nggak ketemu. Nggak perlu temenan tapi juga nggak perlu musuhan, iya kan?

Takut baper? CLBK? Atau takut selingkuh sama mantan?
Bisa banget hal itu terjadi. Tapi, lebih bisa lagi hal itu terjadi secara LUAS nggak hanya dengan mantan. Maka dari itu, pastikan lagi bahwa masing-masing udah 100% move on. Buat saya, baper atau perselingkuhan terjadi bukan karena kita kontak dengan mantan. Siapa pun yang nggak bisa menerapkan batasan baik itu dengan mantan atau teman (yang sebelumnya nggak ada hubungan apa-apa) bisa aja terjadi hubungan yang lebih jauh. Jadi kalo untuk masalah baper-baperan atau terjadi hubungan yang lebih jauh, tergantung masing-masing individunya ya. Jika sendirinya nggak bisa menerapkan batasan pada siapapun lalu terjadi hal-hal buruk, ya sudah. Berarti nggak cukup dewasa untuk berteman dan juga nggak bisa menghargai komitmen dengan pasangan. Say game over to your relationship.

Sayang banget jika harus bermusuhan sama mantan. Karena, buat apa kita dulu pacaran jika ujung-ujungnya harus musuhan? Lebih baik nggak usah pacaran sekalian, jadi nggak akan nambah musuh di masa depan. Mantan itu bukan suatu kesalahan. Mantan itu hanya sekedar: kita mencoba membangun komitmen tapi nggak berhasil. Ya kalo nggak berhasil masa mau nyalahin mantan? Masa mau marahan sama mantan? Ya sudah ikhlaskan aja ke-tidak berhasil-an ini. Boleh lah menjauh dulu dari mantan untuk move on. Kasih juga waktu untuk mantan move on dari kita dan setelah move on baru deh starting to make a friend with ex. Kecuali kalo mantannya serem ya, misal kayak psikopat dan suka ngancem-ngancem (saya punya mantan yang kayak gini) lebih baik diblock dan dihindari. Biasanya saya menghindar dari tipe mantan yang seperti ini. Tapi setelah beberapa waktu dan memastikan dia sudah move on, saya pun membuka blokirannya. Dan kami pun (alhamdulillah) sekarang bisa berteman dengan baik :)

Ada juga yang nggak mau temenan sama mantan karena takut pasangannya cemburu atau ingin menghormati pasangannya. Lumrah sih ini. Saya juga nggak bisa memaksakan jika ini alasannya. Tapi yang saya tekankan, nggak perlu bermusuhan dengan mantan. Jika nggak bisa berteman karena ini alasannya, cukup lah nggak perlu bermusuhan. Nggak perlu save kontaknya ataupun saling follow di sosial media. At least, jika nggak sengaja ketemu mantan, sekedar saling sapa atau saling senyum pun cukup. Dan nggak akan menyakiti hati pasangan juga kan? Syukur-syukur bisa kasih pengertian sama pasangan bahwa nggak ada yang perlu dicemburuin karena masing-masing sudah move on. Itu lebih baik lagi.


Bicara tentang mantan memang sensitif dan pemikiran masing-masing beda-beda. Saya pribadi sih cuma pengen nggak punya musuh aja sih. Jika memang nggak bisa temenan, at least nggak perlu bermusuhan. Dan nggak perlu saling menghindar. Nggak ada untungnya juga membenci mantan. Selain cuma bikin penyakit hati, juga malah bikin rasa nggak nyaman di hati jika memiliki perasaan itu ke siapapun. Yang diperlukan cuma kedewasaan diri untuk memahami bahwa yang berlalu ya sudah berlalu. Nggak usah diungkit lagi. Buat saya, mantan nggak ada bedanya dengan temen lama. Sama-sama tau masa lalu kita, sama-sama pernah menjalin pertemanan di masa lalu. Mantan memang letaknya di belakang. Tapi, bahkan sesekali kita perlu menengok ke belakang untuk menyusun tujuan kita di masa depan lho! Jadikan mantan pembelajaran, jangan dijadikan musuh. Ketika sudah bisa berdamai dengan mantan, maka hati kita juga akan lebih damai tanpa ada rasa benci :)

Salam persahabatan!
Spread positivity,



0 komentar:

Post a Comment